Persepsi terhadap ruang dan waktu…

Persepsi seseorang terhadap kota dan daerah, akan dipengaruhi pengalaman psikologis seseorang selama tinggal di dalamnya.

“Kota yang selalu aku rindukan adalah kota Yogya.. pas banget sama lagu Yogyakarta nya Kla Project.” kata seseorang temanku.

ada yang bilang sedang keblinger sama Solo, the Spirit of Java.

singkatnya… aku pengen cerita, tentang persepsi aku terhadap 3 ranah kota yang pernah kutinggal di dalamnya. Sukoharjo, Yogykarta, Tegal.

Kalo di Surakarta, Sukoharjo, aku mendapat banyak spirit disana. karena disana aku mengalami banyak proses pendewasaan, justru karena jauh dari orangtua. Benar-benar berkesan karena disana aku mengalami masa anak-anak ku menjadi masa remaja. Disana aku memahami makna iman sesungguhnya, disana aku memiliki kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah sedekat-dekatnya. Sehingga persepsiku terhadap kota Solo adalah kota yang selalu kurindukan, dan memang Solo itu, the spirit of Java.

Sedangkan di Yogyakarta, aku mengalami pengalaman psikologis yang fluktuatif, nggak stabil, dan gelombangnya naik-turun. di awal merasa bangga, di tengah merasa jenuh, di pertengahan menjelang akhir merasa benci dan bosan ingin pergi, namun di akhir, aku terpikat oleh pesonanya. Pesona dunia yang selama ini aku cari dan aku rindukan. Baru kini kutemukan mutiara itu di pedalaman ujung wetan Provinsi Yogyakarta. Jadi, aku nggak tahu bagaimana harus ku katakan tentang persepsiku terhadap Ngayogyakarta Hadiningrat.


Lalu, ada 1 kota lagi, yang, belakangan ini aku baru ingin membangun persepsi ku tentangnya. Ya, sejak lama aku tidak begitu mempedulikan keberadaannya. Walaupun sebenarnya aku lahir di kota tersebut. Persepsi ini ingin aku bangun, pun setelah mengetahui dan menyadari bahwa aku harus memikirkan jika masa depanku ada di kota tersebut. Sebagaimana keinginan ku, orangtua dan keluargaku. Mungkin jika tidak, aku tidak akan memikirkan persepsi ku terhadap kota tersebut. Hufft.. tragis memang nasib kotaku ini.

Dan, setelah kurenungi, kuobrak abrik semua file-file dalam memori otakku, lalu kuolah dengan logika, kudapat beberapa kesimpulan tentang persepsiku tentang kota kelahiranku, Tegal. *tarik napas dulu… Tapi aku sendiri bingung harus memulai dari mana. Karena ini sangatlah rumit bagiku untuk menyampaikan. Aku sendiri pun tersentak oleh persepsi yang kubangun. Dan sungguh sangat menyakitkan kukatakan, bahwa persepsi ku terhadap Tegal, tidak lain adalah sebagai kota tempat persinggahan. Tegal adalah tempat aku berlibur kala SMP-SMA ku di PPMI Assalam, Kartasura, Sukoharjo. Dan semua orang tahu, bahwa konsekuensi tinggal di pondok adalah jarangnya pulang ke rumah. Dalam setahun, aku mendapat liburan pulang paling tidak 3x: saat lebaran, saat kenaikan kelas, dan saat liburan caturwulan/ semester. Dan lama liburannya pun jangan kau bayangkan selama sebulan penuh kami bisa libur. Paling lama kami mendapat liburan adalah 2 pekan. Maka, selama 6 tahun masa studi ku di SMP-SMA, aku pulang ke rumah sekitar 18x dengan perkiraan waktu total liburan adalah 105 hari atau 3 bulan lebih 15 hari. Betapa singkatnya perjumpaan ku dengan kota kelahiranku.

Kemudian selepas SMA, kulanjutkan studi ku di Yogyakarta selama 6 tahun 2 bulan untuk menempuh sarjana strata 1. Berapa banyak liburan yang kulalui dan berapa lama waktu yang kuhabiskan untuk betandang ke rumahku? Entahlah, aku malas menghitungnya. Mengingat, aktivitas perkuliahan tidak se-teratur aktivitas saat SMP/ SMA. Tapi kurang lebih, gambarannya sama, lah dengan 6 tahun ku yang sebelumnya. Hiks.. sedih deh. Artinya, sudah 13 tahun sejak 1998-2011 aku meninggalkan kotaku, aku bertemu dengan kotaku kuranglebih 7 bulan lebih sedikit.

Maka, tidak ada yang bisa disalahkan ketika aku membangun persepsi ku terhadap kota Tegal, adalah kota tempat singgah sesaat. Karena Tegal bagiku selama ini adalah tempat aku berlibur, melepas lelah, menikmati peran sebagai anak bungsu yang manja, yang disayang bapak, ibu dan kakak. Tempat terindah untuk menikmati alam pantai, tempat ternyaman untuk bersenda gurau dengan adek-adek keponakan yang masih imut-imut dan lucu-lucu. Enough. No more.

Maka sejujurnya aku sedang kebingungan. Kebingungan sendiri dengan keinginanku, saat aku menyatakan ingin meneruskan masa depanku di kampungku, ingin mengabdikan diriku dekat dengan orangtuaku. ingin membangun kota kelahiranku. Ingin menggali potensi kelautan kota yang selama ini aku tinggalkan. Sungguh, aku kebingungan. Padahal kemudian, orangtua dan keluarga sudah menyambut dengan gembira saat kusampaikan keinginanku itu. Mereka sudah mewacanakan beberapa ladang profesi yang bisa aku garap. Namun, di saat semua sudah klop, tiba-tiba aku sendiri mengalami kebingungan. Maka, semoga pembaca juga tidak ikut bingung.. hehe..

Terlebih lagi, ada masalah lain yang kuhadapi. Justru di saat aku mengalami kebimbangan untuk meneruskan cita-citaku di kampungku, aku terpikat oleh sebuah pesona di ranah Yogyakarta. Di saat yang bersamaan, aku menemukan surga duniawi jauh di ujung wetan Provinsi Yogyakarta, berbatasan dengan Klaten, Jawa Tengah. Sungguh, benar-benar waktu yang teramat sulit untuk kulalui. *haruskah kuceritakan pesona itu pada pembaca semua? Ataukah selanjutnya haruskah menjawab pertanyaan Panji, ke wilayah manakah di Indonesia ini tempat kau ingin merantau jika diberi pilihan untuk kesana.

Yang pertama atau yang kedua, Harus atau tidak, sekarang aku hanya ingin menceritakan tentang persepsi ku. Terima kasih. +_+

Advertisements

About Adistya

I'm a 22 years old girl. Just it. to be continue..

11 responses »

  1. arohmanpanji says:

    hidup jogja bos ^_^v

  2. Bang Cahyo says:

    Alhamdulillaah saya dilahirkan dan dibesarkan di Jogja, tepatnya di pelosok sebelah timur Yogya =D
    Yogya kan memang istimewa.
    Hehe.. pro penetapan!! (Lho??) =D

  3. wiwidia says:

    aku bertemu mb dijogja…samakah persepsinya dgn jgja tentangku hiks…

  4. Hasan Basri says:

    Di manapun ada kesempatan, tarik. Saya dulu sempet dodol karena yang tak pikirin cuman kerja dan duit :),jadi prinsip menjelang lulus : Harus jadi orang opportunis, dimana ada duit di situ saya dateng. Alhamdulillah sekarang agak sadar 🙂

  5. ardianfine says:

    hmmm, gitu toh… jogja memang +ngangeni+

  6. erlideva says:

    jogja memang istimewa…
    terlalu indah dilupakan
    terlalu sedih dikenangkan
    (ngepas banget diiringi lagunya koes plus dari hp petugas perpus….)he…
    kalo temanggung adalah kota untuk “istirahat”, jadi kalo pulang emang cuma buat istirahat…
    tapi mungkin nanti akan menjadi tempat berlabuh dan berkarya… semoga….

  7. Jadi, tempatnya dikota mana, Dis? *kabar dari seorang kawan

  8. smartsholeha says:

    bos panji ga nanya aku…. aku punya berapa kota yak? tasik, djogja, ciamis, jakarta, serang… ah ya… persepsiku????
    satu hal semua ngangenin dengan keunikannya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s