Seorang mahasiswa Fakultas Pertanian diminta merawat makhluk Allah di tanah Prambanan.

Belum lulus, sih. Sedang mengarungi lautan skripsi. Makanya sempat ragu sang mahasiswa menerimanya. Dan kalo di iya kan, pasti kan merubah semua plan hidupnya.

Tapi setelah meminta pertimbangan beberapa rekan, keluarga, bahkan ustad. Dipenuhilah panggilan itu.

Awalnya, dengan masih ada keraguan, pekerjaan itu dilakukannya. Benih yang sudah ditanam, diamati kondisi dan perkembangannya. Nampaknya tanah Prambanan kurang cukup subur, sehingga pemberian pupuk harus sering dilakukan. Mengamati dan berusaha mengetahui kapan saatnya disiram air. Kadar air yang disiramkan tiap hari pun berbeda pada tiap tanaman. Terkadang ketika tunas kecil akan tumbuh, hama pengganggu datang tanpa diketahui. Merampas tunas kecil yang baru akan tumbuh. Terkadang, angin kencang dan derasnya hujan datang tanpa kompromi. Membuat benih-benih tadi ketakutan akan terseret dan tercerabut dari tanah. Tak mungkin juga, kan menanam payung besar setiap hari di ladang seluas itu.

Tak terasa kumpulan hari pun  berlalu menjadi minggu.. Minggu demi minggu terus berjalan, tak terasa menjadi bulan..

Kini tunas-tunas kecil mulai bermunculan.. Dalam hitungan hari, tunas kecil itu menjadi tanaman-tanaman mungil.. Sudah tegak berdiri di atas akarnya, batang dan daun nya yang masih mungil..

Dipandanginya tanaman-tanaman mungil itu.. Tak terasa air matanya menggenang di sudut kelopak matanya.

” Maha Besar Allah, Yang telah menunjukkan tahapan-tahapan perkembangan makhluk ciptaan-Nya. Namun jujur, aku tak tahu sampai kapan bisa merawat tanaman-tanaman ini, Ya Allah. Jika aku harus pergi meninggalkan mereka yang baru tumbuh, aku yakin kau telah pilihkan pengganti ku yang lebih baik.. Yang akan menjaga mereka dari rakusnya hama pengganggu, dari kerasnya terjangan angin.. Yang kuharapkan, kelak mereka menjadi tanaman yang baik. kokoh akarnya dan kuat batangnya lagi berbuah ranum. Berdaun lebat dan rindang serta berbuah ranum saat masak. ”

Tak kuasa ia membayangkan untuk jauh dari tanaman-tanamannya yang selama ini menemani hari-harinya. Mereka yang terkadang menjadi perantara hikmah dan ibroh dari Allah. Gerak-gerik lucu mereka sering mengundang tawa.

” Ya Allah, tunjukkan yang terbaik bagiku, Ya Robb.. jika Kau izinkan, aku ingin setahun lagi merawat mereka..” sambil menahan tangis, pinta sang petani lirih.

-Kalo dikasih tema: cinta dan ukhuwah, gimana?-

Advertisements

About Adistya

I'm a 22 years old girl. Just it. to be continue..

13 responses »

  1. arohmanpanji says:

    jyah….

    sy kira ini ttg pagi, ckckck…

    udah gitu malah diakhiri dengan pertanyaan lagi, fuih…

    *ant yg jawab sendiri yah bos, klo udah terjawab, kabar2i…

    • Adistya says:

      jyah juga… lha abis.. lagi tulalit.. baru dong “pagi” nya haree ini.. ga dari kemaren… maklum.. kayaknya banyak sambungan kabel kena tsunami..

  2. muftisany says:

    ane kira ente itu merawat santri di prambanan sono, ngerawat taneman ? baguslah….

  3. ir says:

    kyaa..ternyata.. dtunggu2 bag pagi-nya mana,tnyta salah ketik ya?pagi jd ‘padi’ smw..
    tp ttp kren koq?

  4. ewindewinda says:

    ikhtiarkan yang terbaik, maka Allah akan memilihkan takdir terbaik Nya. bukan begitu Ustadzah 🙂

  5. wiwidia says:

    mb adis…gimana kalau ga hanya setahun..lebih lama lagi lah..merawatnya

  6. Adistya says:

    sykrn

  7. mau nanem apaan emangnya, Dis? nanem ikan lele?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s