“Pantesan, ty.. Biasanya, orang yang suka nulis itu biasanya susah ngomong lepas..

tapi orang yang suka ngomong itu..bisa-bisa aja buat nulis..”

Kata senior kampus ku suatu hari. Sekitar tahun 2006, 4 tahun yang lalu..

Statement yang belum pernah kudengar sebelumnya. Awalnya aku nda bisa terima. Emang iya, po??

Lalu aku pun menilai dan membandingkan… Ya, emang ada temenku yang pinter ngomong, tapi tulisannya juga enak dibaca, sih..

Dan ada juga, sih temenku yang pinter nulis tapi pendiem.. ga banyak omong…

Setelah lihat orang lain.. ku berkaca pada diriku. Iya juga, sih. Aku banyak nulis tapi jarang bercuap-cuap…

Nda pinter orasi… nda bisa ceplas-ceplos.. Klo mo ngomong/ orasi, nyiapinnya kudu bener2 mateng..

dan…setelah sekian lama terendap oleh waktu… ingatan itu tiba-tiba menyeruak.. menarik2 ku tuk memikirkannya..

Apa bedanya orang yang suka nulis sama orang yang suka ngomong??

Mereka yang suka nulis…kebanyakan pendiam.. mereka lebih suka mengekspresikan diri lewat tulisan, jelas..TApi mengapa? Ada apa dengan bahasa lisan? mengapa bahasa tulisan lebih membuat mereka tertarik?

Although a li’l bit idea, this is what i say bout both them:

Bahasa lisan… tidak se deskriptif bahasa tulis.. orang orasi tu, to the point.. Basa-basi nya hanya diperlukan di saat-saat tertentu. tapi di bahasa lisan… segalah hal diceritakan secara mendetail. kayak bahasa di novel Bumi CInta.. Bakal garing banget kalo ga diceritain gimana dinginnya udara disana, gimana puncak musim salju dengan ujung rumput yang terlihat warna hijaunya..

Trus…bahasa lisan itu sangat terbantu dengan mimik, intonasi, gerakan tubuh dan gestur tubuh. Seolah cukup dengan mengucap kata, “Kawan, Ayas kedinginan..” dengan intonasi dan mimik yang mendukung, disertai kondisi realita yang bbisa diindera dengan panca indera, penerima informasi sudah faham akan maksud dari si pemberi informasi.

Tapi jika seorang penulis ingin memberi kabar kepada pembaca bahwa Ayas kedinginan, dia harus menjabarkannya dalam ratusan kata yang terangkai dalam paragraf tulisan..baru pembaca dapat memahami dan berempati kepada Ayas yang kedinginan..

——————————————————————–

Mungkin ane pernah bilang, salah kalo iklan itu bunyinya: “Jangan lebay, deh plis..”. seolah lebay itu norak… tapi justru… lebay itu lah yang bikin nama Helvi Tiana Rosa melejit.. Dia ga akan setenar ini kalo dia nggak lebay.. Aseli, deh…

– Are you Prambananese?-

Advertisements

About Adistya

I'm a 22 years old girl. Just it. to be continue..

10 responses »

  1. yulifia says:

    kalo gak lebay gak ada critanya BIMO eksis…

  2. niefha says:

    Adist…. rumah barumu cantik.

  3. hak1m says:

    inspiration occurs when you feel it free… then when you think that writing and speaking is different, Shakespere doesn’t… its depend of what we think about… (ram)

  4. ardianfine says:

    konotasi “lebay”nya bisa macem macem kali…

    wah,, background picnya bagus, tp bikin agak pusing bacanya dist…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s