• lanjutan part 1..
  • Lalu di lain waktu, komentarmu ttg sikapku dan Abdul, “Kok Adis mau-mau aja, sih ngelakuin apa-apa yang diminta Abdul. Ngirim fotocopyan tausiyah, ngirim pesenan tulisan email, pesen tas..” ups..sebenernya komentar itu bikin aku agak sakit. Kau, Mell, yang selama ini aku jadiin tempat curhatku. Yang kupercaya akan bisa menjadi pengingatku saat aku salah. Kurang jujur apa lagi aku ceritakan padamu, bahwa tiap-tiap episode pemberian itu punya latar belakang dan alasan sendiri. Bukan karena aku mau diperbudak oleh Abdul. Atau karena ada kedekatan pribadi antara kami. Bukankah kau tau sendiri bagaimana aku mencoba menjaga jarak dengan Abdul? Ah, aku sempat kecewa. Kau tau, Mell. Aku sendiri tak tau kenapa tampak jadi seperti ini di matamu. Seolah aku banyak memberi dan mengasihi Abdul. Dan kalau itu yang tertangkap olehmu, jujur aku kecewa. Karena kepadamu lah aku menceritakan semuanya. Latar belakang tiap kejadian itu, alasan aku melakukannya. Dan, ternyata responmu bagiku, seperti orang yang sama sekali nggak mengenal diriku. Seolah kau mempertanyakan adanya kecenderungan hatiku sama Abdul. Padahal hal itu yang selalu aku jaga agar tidak muncul fitnah atau hal-hal yang tidak diinginkan. Ah, aku tak tau. Wa kafaa billahi syahiida. Dan cukuplah Allah yang menjadi saksi.
  • Yah, begitulah. seingatku, Mella lebih banyak memberi respon, “Kok kamu gini, sih dis. Kok kamu gitu, sih dis” pada tindakan atau sikap yang aku perbuat. Dalam 3 bulan ini, aku ingin belajar menerima diriku apa adanya, Mell. Baik dan buruk yang melekat pada diriku, kuterima dengan ikhlas. ekspektasi orang lain yang berlebih terhadap diriku, atau persepsi negative mereka tentang sikapku, tak perlu kuhiraukan. Dan bagiku itu sulit. Aku masih dalam taraf belajar untuk menuju kesejahteraan psikologis, Mell. Dengan mengurangi perfeksionisku terhadap prestasi akademis, terutama.
  • Bayangkan ketika seorang anak menceritakan pengalamannya di sekolah pada Ayah atau ibunya. Yang selalu dikomentari oleh ayah ibunya dengan, “Kamu nggak boleh gitu, nggak baik. Seharusnya begini.” Atau, “Ya Ampun, kamu nakal banget, sih”. Apa yang akan terjadi pada perkembangan si anak? Apakah dia akan nyaman bercerita secara bebas kepada kedua orangtuanya? Paling, dia akan mencari pelarian dengan mencari teman cewek/ cowok yang bisa mendengarkan curhatnya dan yang bisa mengerti dia apa adanya. jadi, salah siapa kalo si anak ketauan pacaran oleh orang tuanya? Nah, itulah maksudku. Jangan salahkan aku jika aku lebih memilih untuk tidak banyak bercerita kepadamu tentang kondisi dan masalahku lagi.
  • To be continued…
Advertisements

About Adistya

I'm a 22 years old girl. Just it. to be continue..

2 responses »

  1. niefha says:

    ditunggu cerita selanjutnya ya ukhti 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s