Aku punya temen, namanya Mella. Dia akhwat yang sholihah. Anak AA (Asrama Akhwat). Dia teman baikku. Dia sering main ke kos ku. Dan kita lumayan sering bersama dan berinteraksi. Saat ini aku pengin ngirim surat buat dia, untuk bilang uneg-uneg ku, bismillahirrohmanirrohim..

§ “Mell, aku tau kamu tuh bijak, Mell. Kamu adalah amah Mella pemandu AA yang bisa diandalkan adik-adik asramamu. Bisa mengayomi, menjadi kakak yang baik tanpa harus menyuburkan sifat manja mereka. Tapi, entah kenapa aku merasa beda ketika kita berinteraksi, ya. Jujur, aku sering merasa tak berharga di matamu. Dari selorohanmu atas sikapku, dari komentar-komentarmu saat aku mengatakan atau berbuat sesuatu.

§ Missal percakapan kita di telfon tadi pagi, aku curhat padamu tentang masalah emosiku dalam mengerjakan skripsi yang tak bisa kuselesaikan sendiri. Dan aku memilih untuk meminta bantuan psikolog tuk menyelesaikan masalah emosiku. Aku bilang, “Dari sana aku dapatkan kedewasaan dan jati diriku yang sebenarnya.” Kamu ingat apa responmu? “Lho kok baru sekarang, sih?” pelan, tapi dalem. Hemm..mungkin kau ingin mengatakan, segedhe ini, kamu baru menyadari kekanakanmu, Dis? Di usia setua ini kamu baru memperbaiki dirimu? Itu yang aku tangkap dari komentarmu. Dalam sesi-sesi terapi ku, aku diajari untuk bisa menerima diri sendiri. Apa adanya. jadi aku memilih untuk tidak mempermasalahkan apa yang dikatakan orang lain.

§ atau dalam obrolan kita di lain waktu, saat aku jujur mengatakan bahwa aku nggak tahu kabar amah Mia nikah di Lampung bulan kemarin dengan Pak Heri-mantan JS. Aku baru tahu dari amah Mia langsung ketika bertemu di Mardliyah. Dan aku merasa nggak enak hati karena nggak tau kabar itu. Kamu inget responmu saat itu? “Kok bisa, sih Adis nggak ngerti? Amanina, gitu loh..” Hemm.. aku menangkap kesan, kau merendahkan diriku karena aku seharusnya tau tentang kabar itu sejak lama. Jika aku ingin mengurangi tingkat perfeksionisku, aku tidak perlu begitu memedulikan anggapan negatif yang datang dari luar. You are the owner of your behavior n your self n your soul.

§ Lalu di lain waktu, komentarmu tentang aku dan ABdul…(To be continued…)

§ Aku punya temen, namanya Mella. Dia akhwat yang sholihah. Anak AA (Asrama Akhwat). Dia teman baikku. Dia sering main ke kos ku. Dan kita lumayan sering bersama dan berinteraksi. Saat ini aku pengin ngirim surat buat dia, untuk bilang uneg-uneg ku, bismillahirrohmanirrohim..

§ “Mell, aku tau kamu tuh bijak, Mell. Kamu adalah amah Mella pemandu AA yang bisa diandalkan adik-adik asramamu. Bisa mengayomi, menjadi kakak yang baik tanpa harus menyuburkan sifat manja mereka. Tapi, entah kenapa aku merasa beda ketika kita berinteraksi, ya. Jujur, aku sering merasa tak berharga di matamu. Dari selorohanmu atas sikapku, dari komentar-komentarmu saat aku mengatakan atau berbuat sesuatu.

§ Missal percakapan kita di telfon tadi pagi, aku curhat padamu tentang masalah emosiku dalam mengerjakan skripsi yang tak bisa kuselesaikan sendiri. Dan aku memilih untuk meminta bantuan psikolog tuk menyelesaikan masalah emosiku. Aku bilang, “Dari sana aku dapatkan kedewasaan dan jati diriku yang sebenarnya.” Kamu ingat apa responmu? “Lho kok baru sekarang, sih?” pelan, tapi dalem. Hemm..mungkin kau ingin mengatakan, segedhe ini, kamu baru menyadari kekanakanmu, Dis? Di usia setua ini kamu baru memperbaiki dirimu? Itu yang aku tangkap dari komentarmu. Dalam sesi-sesi terapi ku, aku diajari untuk bisa menerima diri sendiri. Apa adanya. jadi aku memilih untuk tidak mempermasalahkan apa yang dikatakan orang lain.

§ atau dalam obrolan kita di lain waktu, saat aku jujur mengatakan bahwa aku nggak tahu kabar amah Mia nikah di Lampung bulan kemarin dengan Pak Heri-mantan JS. Aku baru tahu dari amah Mia langsung ketika bertemu di Mardliyah. Dan aku merasa nggak enak hati karena nggak tau kabar itu. Kamu inget responmu saat itu? “Kok bisa, sih Adis nggak ngerti? Amanina, gitu loh..” Hemm.. aku menangkap kesan, kau merendahkan diriku karena aku seharusnya tau tentang kabar itu sejak lama. Jika aku ingin mengurangi tingkat perfeksionisku, aku tidak perlu begitu memedulikan anggapan negatif yang datang dari luar. You are the owner of your behavior n your self n your soul.

Advertisements

About Adistya

I'm a 22 years old girl. Just it. to be continue..

3 responses »

  1. niefha says:

    adist, are you OK?

  2. niefha says:

    Iye. Oke deh!! (jadi inget 3 idiots :al iz wel)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s