Dunia memang kejam.” Mungkin itu yang akan dikatakan induk burung jika menyaksikan apa yang kulihat hari ini.

Dunia mungkin kejam. Tapi aku tak bisa menjelaskannya mengapa.

Mengapa orang itu tega memberi makan anak burung yang masih hidup kepada lele yang rakus?

Apakah dia tidak merasa berdosa karena memisahkan anak burung dari induknya selama-lamanya?

Mengapa hal itu malah menjadi tontonan menarik anak kos?

Maaf, burung kecil, aku tak bisa menyelamatkan nyawamu. Aku tak punya usaha tuk menolongmu. Maafkan aku.

“Rantai Makanan. Padi dimakan tikus. Tikus dimakan ular. Ular dimakan elang.”

Lalu, mengapa aku menangis?

Haruskah aku menangis saat melihat tikus dimakan ular?

Bahkan aku suka makan ikan yang masih segar dan baru diangkat dari air, bukan?

Ya Kholiq..

Banyak yang tidak aku mengerti.

Aku hanya bisa berdoa pada Allah,

“Ya Allah, semoga pengorbanan nyawa 4 burung kecil itu berbalas syurga-Mu. Jadikanlah itu sebagai amal kebaikan burung kecil kepada lele. Dan berilah ganti kepada induk burung, anak-anak burung yang lebih baik lagi tuk menggantikan tugasnya, mewarnai bumi”

24 February 2010

Advertisements

About Adistya

I'm a 22 years old girl. Just it. to be continue..

2 responses »

  1. niefha says:

    adist.. kemana aja dirimu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s