19 Mei 2010, Pukul 19.20 WIB.

Di ruang tamu asrama mahasiswi itu hanya ada 8 akhwat tuan rumah, dan 1 akhwat tamu, yaitu aku. Malam itu kami dipertemukan selama kurang lebih 1,5 jam. Aku menyengaja datang lebih awal dari waktu di undangan. Seperti biasa, agar mengenal medan tempur. Forum dibuka dan diawali dengan tilawah At-tahrim 6-12 beserta sedikit tafsirnya. Dilanjutkan dengan perkenalan singkat. Kami baru pertama kali bertemu. Dari tampang mereka, tersirat raut-raut kelelahan di wajah mereka dan sisa-sisa kerutan berfikir dari jidat mereka.

Ada hal yang menarik dari mereka, ternyata mereka memiliki pemikiran yang sama denganku: karena kami sama-sama tinggal di asrama, kami berfikir bahwa kegiatan domestik itu adalah pekerjaan sampingan. Mengurusi umat adalah yang utama. Toh, pekerjaan itu bisa dikerjakan oleh orang lain. kalo kita punya khadimat, misalnya. Atau ada yang berfikir bahwa banyak hal lain yang lebih penting dari sekedar mengurusi masalah domestik. Umat butuh kontribusi nyata dari kader. Tholabul’limy juga hal yang utama. Mencuci baju, menyapu kamar, mengepel, piket mingguan? Ya, seperlunya aja. Sesempatnya, gitu. Dan kenyataannya? Dari pengakuan mereka, terlontar bahwa kebiasaan menumpuk cucian selama 3 pekan, membiarkan kamar berantakan, lantai kamar penuh debu dan rambut-rambut yang rontok, piring kotor menumpuk seminggu, sudah menjadi kebiasaan.

Menceritakan hal itu, mereka tidak merasa ada beban. Mereka merasa tanggungjawab mengurusi domestic toh tidak sepenuhnya akan berada di pundaknya. Ketika berumah tangga nanti, kan bisa berbagi beban dengan suami. Emansipasi wanita, lah sekarang eranya. Jadi, santai aja, lagee. Mereka lebih menikmati aktivitas mereka di luar rumah. Kuliah di kampus, syuro di masjid sekitar kampus, nongkrong di sekber, diskusi di gazebo kampus. mereka mendapat sebutan angkatan 65. Berangkat jam 6, pulang jam 5. Bahkan ada yang angkatan 69. Dengan bangga mereka menyebut diri mereka, “Yah, begini lah wanita karir, Mba..” aku hanya tersenyum melihat tingkah laku mereka. bukan senyum merendahkan. Sungguh, bukan. Aku tersenyum geli karena aku seolah melihat sosok diriku ketika seusia mereka. Dan sekarang, aku diminta mengisi kajian kemuslimahan tentang akhlaqul muslimah. Dengan TOR agak menjurus untuk  lebih memperhatikan urusan domestik sebelum urusan publik. Sungguh, betapa rencana Allah sangat tak terduga. Dan, sangat sesuai dengan kebutuhan hamba-Nya (n_n)^.

First of all, kusampaikan, aku bukanlah sosok muslimah yang sudah ideal dalam hal akhlaq. Akhlaq ku masih naik turun, seiring dengan fluktuatifnya imanku. Jadi, forum itu kami niatkan tuk jadi sarana kami untuk belajar bersama. Untuk sama-sama memperbaiki diri. Sedikit preambule model ‘kultum’ kusampaikan tentang mar’atun sholihah wanna be..tentang obsesi sholihah..tentang terbentuknya akhlak sholihah..bahwa kepribadian kita diawali dari penglihatan dan pendengaran kita. Karena semua akan dimintai pertanggungjawabannya. Dan sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah, adalah yang paling bertaqwa.

Forum pun hening. bosan dan kantuk mulai menyerang. Agar melek, forum dilanjutkan dengan games Maju-Mundur, mengutip dari games di film “Freedom Writer”. Yang dari sana, kudapat hasil polling, bahwa kebiasaan meraka dalam hal ibadah, bisa dinilai A. tapi kebiasaan dalam hal domestik dan kerumahtanggaan, nilainya D. well. allright.

Selanjutnya kubagi mereka menjadi 2 kelompok, dan masing-masing kuberi 1 lembar kertas HVS, dan stabillo. Kuminta membuat 3 tabel dengan pulpen dia atas kertas HVS. Di sisi paling kiri kuminta mereka menuliskan kebiasaan-kebiasaan muslimah seperti QL, tilawah, dhuha, shoum sunnah, hafalan, mencuci baju, piket asrama, menyapu kamar, merapikan kamar. Lalu di kolom tengah kuminta mereka mengisi pengaruhnya ketika melaksanakan kebiasaan-kebiasaan tadi. Dan di kolom paling kanan, untuk mengisi, apa yang menyebabkan/ memotivasi untuk melakukan kebiasaan itu. Kubagi mereka menjadi 2 kelompok, kelompok kalah untuk membuat daftar pengaruh dan sebab munculnya rasa MALAS untuk melakukan kebiasaan itu. Sedangkan kelompok menang menuliskan dalam tabel, pengaruh dan sebab munculnya RAJIN dalam melakukan kebiasaan itu. Dengan bantuan tabel itu, mereka mengetahui bahwa kebiasaan yang kita lakukan akan berdampak secara efektif terhadap hidup dan lingkungan kita. Missal: malas mencuci akan berdampak efektif pada kehabisan baju, sehingga pakai baju nggak matching, atau budget makan berkurang karena terpakai untuk laundry. Apa yang menyebabkan kita seringnya malas mencuci? Sibuk, nggak bisa bagi waktu, ujian. Missal lain: rajin QL akan berdampak efektif pada ketenangan jiwa kita ketika menghadapi masalah (nggak grusa’ grusu’-bahasa yang mereka pakai). Apa yang menyebabkan kita rajin QL? Ada teman yang membangunkan, sedang dapet musibah atau masalah besar, dll.

Di akhir forum, kuminta mereka menempelkan 2 kertas tadi di kording mereka. supaya memotivasi mereka saat mereka malas dan menyadarkan kembali jika lupa. Dan setelah kutinggalkan forum itu pukul 21.15, kukatakan pada diriku, “Alhamdulillah, amanah dari panitia telah selesai kutunaikan. Tugasku selesai. Selanjutnya, Allah lah yang berkuasa memberi hidayah, Allah lah yang Maha membolak-balikkan hati. Ya muqollibal quluub, tsabbit qolbii ‘alaa tho’atika

-The End-

Advertisements

About Adistya

I'm a 22 years old girl. Just it. to be continue..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s