Perkenalkan, namaku Rizal. Aku berasal dari Bandung. Aku mahasiswa 2009 di sebuah Universitas swasta di Yogya. Tapi bukan masalah perkuliahan yang ingin aku ceritakan. Aku ingin berbagi kebingunganku.

Sejak kecil, aku memiiki riwayat penyakit syaraf di otakku. Awalnya saat usia 5 tahun, aku pernah demam panas tinggi hingga kejang. Mamaku bilang, penyakit kejang/ step itu menimbulkan sedikit kerusakan di saraf otakku. Prestasiku di sekolah, tidak begitu memuaskan. Hanya pas-pasan. Kepalaku sering pusing. Aku sering keluar masuk rumah sakit. Menurut pengamatan mamaku, itu sering terjadi ketika ada mata pelajaran yang sulit kuterima.

Hari berganti hari, tahun berganti tahun. Setelah SMP, aku meneruskan jenjang SMA di Yogyakarta. Atas berkat Allah, aku diterima di SMA swasta terfavorit di Yogyakarta. Bulan-bulan pertama, aku sering sakit tanpa sebab yang jelas. Diperiksa ke dokter sini dan sana, tak teridentifikasi jelas penyakitnya. Dugaan kuat dokter, aku terserang homesick. Hal itu terbukti ketika aku izin pulang dan beristirahat di rumah, sakitku pun sembuh.

Tahun kedua sekolahku di Yogyakarta, aku semakin sering menderita sakit kepala. Berhari-hari badanku lemas dan kepalaku sangat pusing. Setelah dibawa ke dokter spesialis syaraf, aku didiagnosa menderita epilepsy ringan. Penyebabnya karena ada virus CMV (Cyto Megalo Virus) yang merusak saraf kepalaku. Aku pun harus di opname di RS. Sardjito. Dalam kondisi diinfus, tiap hari aku diinjeksi obat melalui selang infuse dan diberi obat untuk diminum. Apapun kata dokter, aku patuhi. Aku, mama, papa, dan keluargaku, ingin agar aku sembuh. berapapun biaya yang dibutuhkan untuk mengobati virus itu. Hari berganti hari, tak terasa sudah 2 minggu aku berada di paviliun wijaya kusuma itu. Aku sudah mulai bosan dan jenuh dengan nuansa rumahsakit. Aku ingin segera normal kembali, terlepas dari jeratan selang infuse dan kurungan kamar bernuansa sakit itu. Tapi apa dayaku, dokter spesialis syaraf itu belum juga memberi kabar gembira. Belum tampak tanda-tanda bahwa virus yang menyerangku sudah jinak dan aku sudah boleh pulang. Bergiliran teman-temanku datang membesukku. Bergantian keluargaku menemaniku di rumah sakit. Hingga akhirnya, pekan keempat, aku diperbolehkan pulang.

Belum menguap kejenuhanku selepas dari rumah sakit, di sekolah, aku harus mengikuti ujian akhir semester susulan. Padahal sebulan sudah aku tidak mengikuti kelas. Dalam keterbatasanku, mau tidak mau, aku harus mengerjakan soal ujian itu. Saat itu aku  merasa aku tak sanggup menghadapi ujian. Dibantu teman-teman asrama dan teman kelas, perlahan, satu persatu, kukerjakan ujian susulan itu. Aku tak peduli berapapun hasilnya. Yang tersirat dalam benakku, yang penting aku sudah mengerjakannya dan melewatinya. Ujian itu menentukan aku naik ke kelas 3 atau tidak. Aku tak tahu, yang pasti, atas berkat Allah, aku diluluskan naik ke kelas XII (3 SMA). Walau dengan nilai pas-pasan.

Di Kelas XII, sakit kepalaku masih sering kambuh. Seringnya datang jika aku kecapekan atau memikirkan hal yang membebani pikiranku. Sama seperti dulu sebelum aku dirawat di Rumah sakit. Aku sering bertanya, kurang lamakah penyembuhan sakit kepalaku di rumah sakit kemarin? Aku pun pernah berburuk sangka, mungkinkah diagnosa dokter itu salah? Mungkinkah penyembuhan kemarin tidak berpengaruh apa-apa. karena kenyataannya aku masih sering sakit kepala. Aku sering merasa bersalah kepada orangtuaku. Nafkah hasil usaha mereka, habis untuk biaya berobatku di rumah sakit. Tapi, hasilnya tidak begitu signifikan. Entahlah.

Tahun 2009, selepas dari SMA, aku diterima di Fakultas HI IC UMY. Di semester satu, proses adaptasiku dengan dunia perkuliahan tidak sesulit ketika SMA dulu. jika dulu aku sering homesick, sekarang aku malah senang berlama-lama di Yogyakarta. Tak lupa kegiatan organisasi kuikuti. KAMMI, English Club, dan SKI. Mengikuti 3 organisasi, konsekuensinya, aku harus lebih pandai mengatur waktu, tenaga, dan pikiranku. Tapi aku menyukainya. Satu semester kulewati, IPK ku 3,2. Berat badanku pun bertambah 6 kg. Saat pulang ke Bandung, mama dan papaku bilang, aku tambah gendut. Pipiku nggak tirus kayak dulu lagi. Celanaku pun sudah banyak yang nggak muat lagi.

Seiring berjalannya waktu, semakin mendalam mata kuliahku, bertambah padat aktivitasku, berefek pada seringnya sakit kepala ku muncul. Terkadang aku merasa lelah dengan sakit tahunan ku ini. Sehingga aku berfikir untuk mengabaikannya. Karena sudah biasa sakit kepala, jadi membiasakan diri ketika sakit kepala datang menyerang.

Hingga suatu hari, frekuensi sakit kepalaku semakin sering kurasakan dan semakin mengganggu aktivitasku. Aku tak tahu harus pergi kemana untuk menyembuhkan sakit kepalaku ini. Berobat ke dokter syaraf lagi, aku merasa skeptis. Aku masih memendam kecewa. Dan itu mempengaruhi sugestiku. Padahal, berhasil tidaknya pengobatan itu salah satunya dipengaruhi oleh sugesti juga, bukan? Aku pun menanyakan pada mama dan papaku. Bagaimana sebaiknya langkah yang harus kulakukan. Ternyata mama dan papa pun sependapat dengan diriku. “Kalo bisa, jangan ke dokter yang kemarin. Nanti dihubungin sama penyakitmu yang dulu”, kata Mama khawatir. Nada bicara mama menunjukkan ada sugesti yang sama denganku. Hufftt…aku jadi bingung. Padahal sakit kepalaku sudah mendesak untuk segera kuobati. Karena aku tidak bisa bebas beraktivitas jika sakit kepala ini belum diobati.

Aku pun meminta pendapat tetehku, yang pernah mengalami sakit yang sama denganku. Teteh juga kuliah di Yogya, namun kami beda universitas. Teteh pernah kecelakaan dan terbentur kepalanya 4 tahun yang lalu. Beliau sempat pingsan sekitar 30 menit setelah jatuh dan dirawat di rumah sakit selama 10 hari. Lalu berhenti kuliah selama 3 bulan. Dan harus mengulang mata kuliah satu semester. Beliau yang membawaku ke dokter spesialis syaraf. Sama dengan dokter yang menanganinya. Terakhir bertemu dengan dengannya, tetehku bilang akan check up ke dokter dalam waktu dekat. Sakit kepalanya mulai sering kambuh lagi. Dan itu cukup membuat skripsinya terhambat. Kupikir, mungkin kita bisa check up bareng, mumpung dokter kita sama.

Saran dari tetehku, aku menyatukan pikiran dan pendapat dengan mama papaku dulu. pengobatan mana yang akan disepakati untuk kutempuh. Karena pengobatan itu bergantung dengan sugesti juga. jika disepakati bahwa aku berobat pada dokter yang sama seperti dulu, maka itulah jalan yang harus ditempuh. Namun, jika disepakati bahwa aku harus berpindah pada pengobatan yang lain, maka insya Allah, itulah jalan yang terbaik.

Pesan tetehku, “Zal, namanya kita lagi sakit, ikhtiar kita dengan berobat ke dokter dengan keahliannya. Hasilnya kayak gimana, kita serahin sama Allah. Semua proses yang yang harus kita lalui selama kita berikhtiar, semua ada dalam scenario-Nya. Percayalah, Allah, Ar-rohman, selalu memberi yang terbaik buat hamba-Nya”.

Hufftt…

Aku jadi merasa serba salah. Betul juga apa yang dikatakan tetehku, tapi aku juga masih bingung. Ingin rasanya aku mengeluh. Beberapa teman dan saudaraku yang pernah menjalani pengobatan syaraf otak, merasakan hal yang sama denganku. Baik yang sering pusing terus menerus, yang pernah cedera kepala, yang otaknya terserang virus, iritasi otak, epilepsy, dll. Kami merasa skeptis dengan pengobatan dokter. Sudah proses penyembuhannya lama, harga obatnya mahal, hasilnya pun tidak terlihat signifikan. Dalam kurun periodic waktu, sakit itu bisa saja kambuh lagi. Setahun, tiga tahun, atau lima tahun. Perasaan itu terkadang membuat kami apatis. Sebagian kami tidak percaya lagi dengan pengobatan dokter. Karena melihat hasil yang tidak signifikan jika dibanding usaha yang sudah dikeluarkan. Dan perasaan itu mendorong kami untuk menghentikan pengobatan di tengah jalan. Kami berfikir, saat kami menyelesaikan pengobatan, mungkin harta yang tersisa tinggal baju yang melekat di badan saja. Dengan itu pun, belum tentu kita sembuh total.

Yah, itulah ungkapan kegelisahan dan pesimis kami, yang pernah menderita cedera di bagian kepala, yang tidak mengetahui mekanisme sebenarnya dalam penyembuhan penyakit system syaraf ini.

e-diary, 5 Mei 2010

-Based on true story-

Advertisements

About Adistya

I'm a 22 years old girl. Just it. to be continue..

One response »

  1. Jubah Fesyen says:

    Maaf tanya .. adakah pos yang sebelum nie berkaitan dengan pos nie ??
    saya agak keliru dengan link dalam blog awak nie..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s