“..

Nampaknya, aku mulai menyukaimu, Hujan..

..” (niefha)

Hujan deras mengguyur Yogyakarta ahad sore itu. Di Gamping, di Wirobrajan, di Gunung Sempu, di Sleman, hujan merata menyebarkan titik-titiknya. Hujan sore itu membawa kehangatan bagi hatiku. Karena aku sedang berada di kos Arin, jadi tidak kedinginan. Juga dengan secangkir teh hangat dari YM, inspirasi marathon dari Mastori, dengan letupan ide arin kecil tentang keluarga. Sms nifha pun semakin melengkapi. Kubalas sms itu,

“..^_^.. so sweet.. ’ceritakan padaku ttg hujan, fha..’ Aku ingin mengenalnya dengan dekat”

Ingatanku membawaku pada kisah hujan sore sembari menunggu I Fu Mie datang. Permintaan yang sama kulontarkan pada teman di depanku. Pertanyaan itu muncul begitu saja. Iseng. Tak kusangka kisah itu belum berakhir. Lalu, datang lagi sms dari nifha.

“Entah kenapa, rasa itu mulai berubah. Aku tau Dist, sejak dulu aku selalu membenci hujan. Kuyup.Banjir.dingin.sakit. mendung bahkan tak jarang nampak gelap.

Aneh. Kenapa sekarang aku justru mulai menyukainya? Walau tak selalu ada pelangi setelahnya, tapi selepas itu, terasalah sejuknya angin yang berhembus.”

Hujan di masa lalu?? Ya..nifha mengingatkanku pada memori hujan di masa lalu..

“Dan aku sadar: apa yang kubenci di awal, mungkin suatu hari justru akan kucintai. Tapi semoga bukan kebatilan. Seperti kata asih, seringnya ketidaksukaanku itu hanya bagian dari ketidaktahuanku”(tambah nifha)

Kubalas smsnya,

“kata-kata nifha ingetin kebersamaan aku dg hujan di masa lalu juga. Seingatku di assalaam, aku sering menyengaja berjalan di bawah hujan. Bersentuhan langsung dengan dingin airnya. Merasakan nikmat dan rahmat Allah itu sungguh dekat banget. Kami bersahabat.

Tapi, sekarang aku lupa akan rasa itu. Aku dan hujan jadi hambar. Aku ingin kembali mengenalnya. Kapan-kapan hujan-hujanan bareng, yuk..(n_n)^”

hujan adalah rahmat Allah

Ya..Subhanallah..hujan..maafkan aku, sobat. Aku telah lama melupakan persahabatan kita. Kau yang mengajariku tuk tabah dan ikhlas. Kau beri harapan, kau beri kasih sayang yang tulus bagi tumbuhnya pohon mangga, bunga dan rumput di taman depan kamarku. Kau yang temani aku saat aku sedih dan sendiri di sana. Kau ingatkan diriku pada rahmat dan nikmat Allah. Subhanallah.. aku merindukanmu..di musim hujan 1431 H ini, walaupun hampir setiap hari aku bisa menemuimu, tapi aku rindu masa-masa itu. Dan rasa itu..semoga masih bisa kupupuk agar tumbuh kembali di hatiku. Hujan, bantu aku menyiraminya agar dia bersemai subur di hatiku.  I love you, sobat.

Ahad, 31 Januari 2010

Yogya, perlahan ku harus meninggalkanmu,

http://www.adistyapratiwi.wordpress.com

Advertisements

About Adistya

I'm a 22 years old girl. Just it. to be continue..

15 responses »

  1. hak1m says:

    moment moment ketika eksotisme dari sebuah kenangan yang kemudian bertumpuk tumpuk menjadi semacam air asin bagi mata yang memerahkannya hingga ingin meneteskan air mata adalah moment moment ketika hidup menjadi semacam alam mellankoli yang sangat menyiksa.. tapi itu ada dan memang seharusnya menjadi kenangan… maka ketika kau melepaskan jogjakarta, sahabat-sahabat, dan hangat hujan di sepanjang jalan ini, maka harus ada moment ini…,okey

  2. muftisany says:

    sejak kapan akhwat sms-an berasa prosa kayak gt ?

  3. wiwidia says:

    diari hujan….selalu tetesan itu turun bukan dari langit…tp dri..

  4. niefha says:

    gak ada simbol jempol ya Dist?
    hm..

    jadi kita ke babarsari? ^ ^

  5. arohmanpanji says:

    hujan air aja udah manteb banget, apalagi klo hujan salju ya?

    go rain go!

  6. salam super-
    salam hangat dari pulau-
    saya percaya kalau setiap tetes hujan ynag jatuh ke bumi, dibawa oleh satu maialikat yang berbeda dari zaman nabi Adam sampai nanti kiamat…
    Sungguh luar biasa ya…

  7. Adistya says:

    @hak1m:
    @moeft: kan kami sesama akhwat. lho??
    @wid:diari hujan, turun dari diri.emm….
    @nifh:ahad pagi, ya kita ajakin hujan main bareng di Babarsari. (enak banget, yak ngomongnya)
    @panji:betul, betul. salju di wordpress aja udah menyejukkan banget. gmn salju aslinya, ya..

  8. Adistya says:

    @hak1m:masih no comment
    @andrisianipar: motivator bisnis, ya? tulisan dan webnya keren..kalo mau konsultasi gmn caranya?

  9. hak1m says:

    @wiwidia
    diary hujan tuh blognya Afifah afra …
    @ tuan tanah
    hujan bisa bikin becek, tanah menebal di sendal, genteng yang bocor menangis, dan bikin langit gelap… tapi bagaimana lagi… itulah hujan jadi gak perlu disukai atau tidak seperti hidup ini ia akan tetap ada dan itulah petunjuk dari Allah untuk diambil ilmunya… baca deh 55:55

  10. arohmanpanji says:

    oya, ada satu nasyid yg bener2 mewakili hujan…

    Satu Rindu-nya Opik dan Amanda!

    asli, bener2 ngingetin gw waktu di Izzam, medio Ramadhan-Syawal

  11. wex says:

    Hey, wait a minute… kenapa gunung sempu disebut2? apakah ada yang salah dengan daerah itu? hmmm.. kayaknya yang salah tu penghuninya..

    exept me of course

  12. niefha says:

    lama nggak ke sini Dist. Design baru ya? ^ ^

  13. ningrum says:

    Ass. mbak adis.
    weh weh weh…
    dalem banget..
    iya. sensasi hujan memang baru kerasa kalo pas lagi sedih atau lagi pengin merenung. coba deh kalo lagi seneng, hepi gitu, biasanya gak ada sesuatu mendalam tentang hujan to?

    kata2ne bagus.tapi memang berasa puitis hehe. kebalikanku ya, bahasaku santai banget. bahasa novel gaul gitu deh. hehehe.

    semangat mbak.

    eh, mbak ada fb gak?
    lo ada, ku add yap..

  14. ZuSmart Drc says:

    mengapa engkau bertengkar dengan hujan di masa lalu?

    sliding door curtains

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s