Tiba-tiba saya teringat Ikal di novel Sang Pemimpi.

Waktu Ikal kelas 2 SMA, Ikal mulai bekerja sampingan dengan menjadi kuli angkut kayu. Sepulang sekolah, dia habiskan waktu bekerja untuk mengurangi beban financial keluarganya. Dalam dunia bekerja itu, dia melihat realita hidup yang sesungguhnya. Yang tak ia dapatkan di sekolah. Di sana ia merasakan pahitnya kenyataan dan ketidakadilan dunia. Hal itu membuat dia malas pergi ke sekolah. Jika dia sudah bisa mencari uang sendiri, untuk apa susah-susah menuntut ilmu. “Toh, seorang  lulusan SMA seperti dia nantinya hanya akan menjadi kuli juga” begitu pikirnya. Pikirannya terus diracuni oleh virus-virus kenikmatan sesaat yang mengikis motivasinya untuk belajar ke sekolah. Hingga akhirnya, saat penerimaan raport, ayahnya berangkat dengan sepeda seperti biasa untuk mengambil raport anaknya. namun kali itu, ayahnya pulang dengan tanpa ekspresi. Diam. Memendam kesedihan. Karena anaknya yang biasa juara kelas, kali ini prestasinya menurun drastis.

“Itu namanya kau mendahului takdir, Kal..” Nasihat Arai kepada Ikal saat Ikal mengadu kepada sahabatnya itu.

Yah, begitulah. Belajar dari Arai yang sejak kecil kehilangan sanak saudaranya (bagi yang udah baca, kalo masih inget, istilahnya simpai keramat. Betul?). Yang Andrea Hirata membahasakan Arai dengan, Ia telah berdamai dengan kepedihan dan siap menantang nasibnya. Ia juga bertekad memerdekakan dirinya dari duka mengharu biru yang membelenggunya seumur hidup.”

Terkadang kita bersikap kekanak-kanakan seperti Ikal. Hopeless dengan sesuatu membuat kita tak bersemangat melakukan apapun, sekecil apapun untuk sesuatu itu. Seolah itulah akhir dari takdir. Padahal, kita tak tahu apa yang telah Allah rencanakan di balik itu semua. Memang berat, untuk senantiasa memupuk keyakinan bahwa Allah selalu memberi yang terrrrrbaik bagi hamba-NYA. Yah, intinya, jangan mendahului takdir, kawan. Lakukan yang terbaik yang bisa kita lakukan  saat ini.

Lalui apa yang ada di hadapan kita dengan ikhlas, dan memberikan yang terbaik. Maka, “tidak ada balasan untuk kebaikan melainkan kebaikan juga” (intisari QS Ar-Rohman ayat 60). Daripada merutuk kegelapan, lebih baik menyalakan lillin, bukan?

Insya Allah malem ini saya nyicil bikin laporan inspiratif, bosnya BIMO. Mumpung deadline revisinya sedang agak longgar.

Advertisements

About Adistya

I'm a 22 years old girl. Just it. to be continue..

4 responses »

  1. hak1m says:

    anehnya yang diberi kesempatan justru melarikan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s