busJomborSenin, 3 Agustus 2009

Pernahkah kalian kehabisan uang di saat tidak ada siapa-siapa di sekeliling kalian?

Hmm..Semoga tidak..

Kisah perjalanan ini berawal dari sms kakakku di Semarang :

“Ass.wr.wb. Tya dah mulai libur? Rozan masuk RS, nih. Kalo lagi liburan, tlng tungguin dong, mba yen lagi teler juga, nih.” (Senin, 3 Agustus 2009 pukul 2 dinihari)

Terbayang sosok kakakku yang sedang hamil 5 bulan, kepayahan harus mengurus administrasi rumahsakit Rozan. Harus kesana, kemari, sendirian. Karena Abinya rozan kebetulan sedang ada tugas kantor di Batam. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke Semarang secepatnya. Segera setelah membereskan pakaian yang masih ada di jemuran, lalu menyelesaikan titipan alumni di akademik fakultas, dan mengembalikan barang teman yang ketinggalan di kamar. Pukul 12.00 aku diantarkan Mba Lilis ke terminal Jombor. Aku tidak sempat berfikir masalah financial. Kubawa yang aku miliki. Kebetulan ATM sedang kosong, dan tabungan pribadi sedang habis.

Basa-basi, kutanya harga tiket Bis Nusantara (patas-AC) kepada penjual tiket. “Rp. 35.000,00 mba”. Agak kapok naik bis ekonomi, karena sering di oper di Magelang dan tidak sesuai rute Bis normal.

matahari-dikelilingi-pelangi

Segera kuhitung uang yang tersimpan di tas. Semuanya ada Rp. 34.000,00. Pffh..padahal, untuk sampai di RS Kariadi, harus naik angkot 1 kali lagi. Wah, pusing dah. Tapi tenang. Yuk, kita sholat dulu. Kebetulan adzan sudah terdengar. Kali aja ada malaikat yang mau bayarin. He.. Kepalaku masih dipenuhi berbagai alternative pilihan yang bisa aku ambil. setelah sholat dzuhur, aku berpikiran untuk tetap naik bis patas AC, dengan konsekuensi bayarnya kurang Rp. 1000,00. Lalu turun di pasar banyumanik, dan naik taksi sampai RS. Kariadi. Bayar taksinya nodong ama kakakku. Tapi sekeluarnya dari mushola, kakiku melangkah menuju bis Trisakti, kelas ekonomi yang sudah akan segera berangkat. Kupilih tempat duduk paling ujung dekat jendela, dengan harapan meminimalisir interaksi dengan penumpang lain. Terutama jika penumpangnya laki-laki. Bismillah..

“semoga tidak mabuk selama dalam perjalanan.” Doaku dalam hati, sekaligus mengkondisikan tubuhku untuk tahan selama dalam perjalanan. Pukul 13.00, bus pun melaju dengan pelan menyusuri jalan Magelang.Saat itu bus masih kosong, tidak ada penumpang lain di kursi sebelahku. Di daerah Muntilan, ada operan penumpang dari bus lain. Wah, siap-siap ni. Alhamdulillah, tidak begitu penuh. Bapak-bapak yang duduk di sebelahku, pun seakan mengerti dan memilih duduk di kursi ujung yang lain (3 seat). Coba ada tulisan di bagian depan bus, “Laki-laki duduk dengan laki-laki, perempuan duduk dengan perempuan.” HE..maunya..

Lalu kondektur pun mulai membagikan karcis kepada penumpang. Dag-dig dug. Kutanya bapak sebelahku, berapa biasanya ke Semarang? Beliau sama denganku, tidak tahu. Setelah kondektur tiba di giliranku untuk membayar, kuberi 2 lembar puluhan ribu, lalu aku diberi karcis dan kembalian selembar uang ribuan. Alhamdulillah, masih bisa makan. Ya, karena sejak pagi aku belum makan. Niat puasa kuurungkan karena akan dalam kondisi perjalanan. Uang sisanya aku belikan tahu, gorengan dan arem-arem dan beberapa rupiah untuk pengamen. “Walau rambut kami panjang, bukan berarti mata keranjang. Walau rambut kami gonrong, kami bukanlah penodong”. Itu adalah sekilas lirik dari pengamen pertama yang naik ke bis ku. Dilihat dari lirik lagunya, aku menebak dia sudah bertahun-tahun berprofesi sebagai pengamen. Karena liriknya sangat humanis, dan memperhatikan semua unsur bis. Maksudnya, lagu dia menyapa semua stakeholder yang ada dalam bis tersebut. Mulai dari supir, kernet, penumpang yang islam-dan identik suka hal berbau religi-, penumpang yang nasionalis-dan identik suka dengan perjuangan dan pengorbanan untuk Negara-, penumpang yang Kristen, budha, hindu, katolik, semuanya disebutnya dalam lagunya. Bagiku, lirik pengamen ini tidak seperti lirik lagu pengamen yang biasa aku dengar.

 

Setelah sampai di terminal Magelang, bis berhenti agak lama. Karena kursi di sebelahku kosong, seorang wanita berjilbab di kursi seberangku beranjak dan duduk di sebelahku. Rupanya dia butuh teman mengobrol. Karena ini pengalaman pertamanya ke Semarang. Sayangnya, dia memilihku yang sama-sama tidak terlalu tahu tentang Semarang. He..tapi kami memiliki persamaan. Ternyata dia alumni dari Fakultas Pertanian UGM, yang baru 2 bulan bekerja di Dinas Pertanian Purworejo. Namanya Mba Yanti, dari Kulonprogo. Dia diminta ke Semarang untuk mengikuti pelatihan, menggantikan temannya yang sedang sakit. Dia dari jurusan HPT, dan aku Perikanan. Sepanjang perjalanan, kami bercerita banyak hal tentang diri kami. Aku mencoba membantu mencari tahu tempat turunnya dia jika ingin ke daerah Srondol, dengan menanyakannya ke kakakku via sms. Ternyata tempat turun dan bis yang selanjutnya harus kami tumpangi lagi, hamper sama. Dia mau ke Srondol, dan untuk menuju ke RS Kariadi, melewati Srondol. Tapi aku turun di pasar Banyumanik, dan dia turun di Sukun, ADA Setiabudi. Pemandangan di jalan daerah Secang-Ungaran, sangatlah indah. Dan dia mengajakku menikmatinya. “itu bagus, ya pemandangannya..Lihat, tuh ada Pagoda gedhe banget..” Namun, saat itu aku mulai agak mual dan pusing, jadi kutanggapi hanya dengan senyum sedikit dan “iya, iya..”. Hingga akhirnya bis tiba di Pasar Banyumanik, aku pun berpamitan untuk turun. See u..Nice to meet, u, Sis..

Sesampainya di pasar banyumanik, aku mampir ke warung untuk mengkondisikan perutku yang agak mual. “Bu, pesan teh anget, bu dikasih jeruk nipis, ya”. Setelah disediakan apa yang aku minta, dan aku bersiap untuk meminumnya, aku baru teringat. “Duitku tinggal berapa, ya?”. O, alhamdulillah, masih ada Rp.5000,00. Lalu iseng kutanya penjualnya, “Kalo naik angkot ke Kariadi, ongkosnya berapa, ya Bu?” “tergantung bisnya, mba. Kalo naik Daihatsu, lima ribu. Kalo naik Karoseri, Cuma tiga ribu”. Alhamdulillah, nanti naik yang Karoseri aja, deh.

Cukup lama aku singgah di warung kecil ini. Karena perutku belum mereda juga mualnya. Sembari kunikmati teh anget, aku perhatikan warung itu, beserta penjual dan pembeli yang lain. Saat awal aku datang, warung itu sepi. Beberapa menit kemudian, datanglah bapak-bapak berseragam supir taksi dan kernet-kernet bus. Pantas saja, betahlah mereka berlama-lama di warung tersebut. Karena disana ada pelayan muda, wanita, yang saat itu berpakaian sangat seksi. Dari menguping pembicaraan mereka, ternyata pelayan itu adalah putri dari Ibu penjual warung. Ingatanku melayang ke Yogya, nun jauh di sana. Di warung makan yang sering ku kunjungi di sebelah utara Fakultas Pertanian UGM. Seorang ibu sebagai pemilik warung, memiliki pelayan kebanggaan yang juga putrinya. Sangat membanggakan bagi ibu itu, karena anaknya sangat cantik dan sangat seksi, sehingga warungnya pun selalu laris. Terutama pembeli laki-laki, baik itu karyawan kampus ku, atau karyawan toko sebelah warung itu. Tak jarang di depan mata ibunya, tangan pembeli nakal mencolek  tubuh si anak. Ah, tak betah aku berlama-lama di warung seperti itu. Gila, pikirku.

Setelah agak membaik, aku membayar apa yang kumakan dan segera beranjak. Karena situasi warung sudah sangat tidak bersahabat lagi. Ternyata tak sulit menemukan mobil karoseri yang melewati RS Kariadi. Dan yang penting, ongkosnya beneran Cuma Rp. 3000,00. Jadi masih sisa Rp.1000,00 di kantongku. Lumayan, buat beli pisang goreng..He..

Alhamdulillah, pukul 17.10 aku tiba di Kariadi dan segera mencari kamar Kutilang No. 8. Dengan sedikit muter-muter kayak orang bingung, Tanya sana dan sini, salah masuk segala, akhirnya nemu juga. Nun jauh di belakang sana. Sampai disana,kondisi kakakku yang sedang hamil yang terlihat sangat pucat. Ternyata memang sejak semalam dia tidak bisa istirahat, jalan mondar-mandir ngurus administrasi sendiri, nggak makan, lagi. Karena di usia kehamilannya itu, masih suka mual kalo makan macem-macem. Jadi cuma ngemil-ngemil aja.  Ibu hamil, ibu hamil. Ada-ada aja tingkahnya. Trus, malamnya, dijemput oleh Rofi, kakaknya Rozan, anaknya yang pertama yang sekarang kelas 2 akselesari di SMA 3 Semarang. Kakakku pulang ke rumah dan beristirahat disana. Sedang aku sendirian menungguin si Endut Rozan. Alhamdulillah, kondisinya sudah tidak terlalu parah. DB dan typhus sudah menjadi sakit langganannya sejak kecil.

Keesokan harinya, ada 2 temanku yang berkunjung menjenguk Rozan. Ulya, teman SMP-SMA ku di Assalaam, yang asli orang Semarang dan kuliah di UNNES. Dan Anni, akhwat tarbiyah asal Bumiayu (Brebes), angkatan 2005, yang juga kuliah di UNNES. Dengan Anni, aku mengenalnya di dalam kereta Kaligung, saat akan pulang pilpres. Hanya 3 jam aku berkenalan dengannya, tapi ukhuwah itu masih terjaga sampai 1 bulan setelah pertemuan itu. Anni tinggal di pesantren mahasiswi milik BASMALA, kang Abik (Habiburrahman El-Sirazy) punya. Kapan-kapan aku ingin bersilaturahim kesana, ah. Penasaran dengan system pengelolaan disana dan apa aja yang diajarkan disana.

Dengan Ulya, aku menaruh hormat padanya. Dia seperti sosok ibu dari alumni Assalaam. yang mengamati perkembangan anak-anaknya. Tanpa ada yang meminta. Dan dengan keteguhan prinsipnya, dia mengingatkan teman-teman yang sudah agak nggak beres. Dia mengingatkan temanku, yang saat ini di Jakarta, yang dulunya sangat alim dan cantik, karena sekarang mulai pacaran. Caranya mengingatkan sungguh sangat humanis, dengan pendekatan personal yang bagus. Maklum, mahasiswi jurusan Bimbingan Konseling. Sepertinya aku tidak begitu care dengan teman-teman alumni. Mba Mila yang berubah saat bertemu di Yogya saja, aku biasa saja. Pffuh, payah, ya.. Aku belajar banyak hal dari Ulya. Pertengahan Agustus ini, Ulya akan melanjutkan S2 nya di UPI, Bandung. Padahal dia baru akan wisuda bulan Oktober, lo. Luar biasa, temanku satu ini. Good Luck, teman..selamat menjalani kehidupan baru, dunia baru nun jauh di Bandung sana. Aku percaya Ulya akan tetap istiqomah seperti Ulya yang sekarang.

Advertisements

About Adistya

I'm a 22 years old girl. Just it. to be continue..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s