Ahad, 2 Agustus 2009-seminggu yang lalu-

Hari ini aku banyak banget dapet, materi dari kehidupan.. dari pagi sampe sore..dari materi skripsi hingga piket..hingga dadaku sesak..tak sanggup lagi mengucapkan sepatah katapun kecuali: ISTIGHFAR…mohon ampun pada Allah..dan berazzam untuk lebih baik esok hari.. Hampir semuanya materi berirama dengan nada sama, “banyak kelalaian yang kulakukan”

Pagi, usai kelas media di PSJ

Ntah kenapa, the hero today is Hafidz.. bukan karena dia yang bawa LCD ato jadi panitia kelas media.. malah nggak banget. Dah dateng telat, bawa LCD tapi nggak dipasang (satu hal yang menggembirakan adalah dia tidak membuang waktu saat menunggu pak Yusuf dengan sia-sia. Tilawah, bo..atau mungkin hafalan. Nggak kayak saya, malah bercandaan sama Arin). Tapi saya ngerti, kok. Emang kondisi forumnya nggak bisa dikondisikan untuk ideal. Jadi, telat dah biasa, fasilitas seadanya dah biasa, nggak ideal pun sudah biasa..(Kenapa, ya..aneh..).

Ya, pagi ini aku mengajak Arin, my niece. Arin mulai tahun ini sekolah di SMA 1 Teladan, Yogyakarta. Dan as her aunty, aku mendapat amanah untuk mengurus segala keperluan guna memperlancar proses belajar dan sekolahnya.

Sepulang dari sekolah media, entah kenapa aku ingin mengangkat pembiacaraan tentang realita kehidupan yang bisa kita ambil hikmahnya.

“Arin tau panitia yang ikhwan tadi? Dia udah nggak menggantungkan biaya kuliahnya sama ortunya lagi, lo, ” Aku mencoba membuka pembicaraan

“Trus darimana kalo dia mau bayar kuliah?”

“Salah satunya dengan jadi penyiar MQ”

“Ooo..gitu”

“Tapi walaupun begitu, dia tidak kemudian menjadi orang yang selfish, hanya memikirkan kuliah, belajar dan cepet lulus. Kontribusinya buat orang banyak juga luar biasa..”

Deg. Aku berfikir ulang pada kalimat yang barusan kuucapkan. Hatiku membenarkan, namun pikiranku berfikir terbalik. Kenapa juga, ya orang-orang seperti Hafidz mau menyerahkan dirinya untuk berkontribusi? Seharusnya dia berpikir untuk hanya focus kepada studi dan akademinya saja. Tidak kemudian menghabiskan waktu, merelakan energy dan pikiran untuk Jama’ah Sholahudin, untuk dakwah, untuk BIMO. Tapi aku percaya, ada sesuatu yang dia yakini yang mendorong dia untuk melakukan sesuatu. Teorinya, “Sesuatu yang kita yakini akan mendorong kita untuk melakukan sesuatu.”

Ada sosok lain yang membuatku terheran-heran. Yaitu mereka yang memiliki keterbatasan dalam hal transportasi, tapi mereka ada di mana-mana. Mobilitas tinggi dengan transportasi yang terbatas. Sebutlah Ida, Ina, dan Ummu. Ketiganya tidak punya motor pribadi. Namun mereka saat ini lulus dari ma’had Ali (program kuliah 4 semester untuk pendalaman bahasa arab), mereka mengajar kesana dan kesini, ikut pelatihan ini dan itu. Subhanallah. Ketika kutanya alasannya, mereka kompak menjawab, “sebenarnya transportasi bukanlah masalah utama. Selama ada niat di hati, insya Allah, selalu ada jalan.” Subhanallah.. luar biasa semangat mereka..

Di penghujung pertemuanku dengan Arin siang ini, kami membicarakan masalah fasilitas yang diberikan orangtua kami. Ada 1 laptop, 1 sepedamotor keren, ditambah 1 CPU ku yang masih bisa berfungsi (lo-la dikit, lah maklum dah tua). Semuanya diberikan untuk kepentingan bersama, untuk mendukung Arin sekolah dan aku dalam mengerjakan skripsi. Subhanallah, betapa mudahnya sekolah bagi Arin saat ini. Teringat zamanku SMA dulu, tak ada computer, tak ada motor (karena tidak butuh motor juga, sih). Kuliah pun, Alhamdulillah dibawakan CPU, monitor untuk tugas kuliah plus sepeda untuk berkendaraan. Tapi, rasa syukur itu masih belum genap rasanya. Karena pembagian fasilitas itu belum ideal, Arin masih menginginkan 1 laptop lagi untuknya. Alasannya agar mempermudah dibawa ke sekolah, karena sering ada tugas mendadak yang harus browse online. Setelah kuloby, kujelaskan, begini dan begitu, ditambah sebuah statement, “Nda, kalo kita minta sesuatu sama mamah-papah tu, pasti mereka akan ngoyo untuk mengabulkan permintaan kita. Jika itu bernilai lebih dari gaji biasa, mereka akan kerja lebih ekstra untuk mengejar target terkabulnya keinginan kita. Saat itu, mereka tidak akan peduli dengan kelelahan, sakit, atau apapun yang mereka derita. Karena mereka hanya ingin membahagiakan anaknya. Lalu, sebagai anak, tegakah kita berbahagia di atas kelelahan mereka? Sudahlah, girl. Kita manfaatkan secara optimal dulu segala nikmat yang kita miliki saat ini.” Maaf kalo aku belum bisa berbagi dengan baik. Tumpahlah semua yang selama ini menyesakkan dalam dada. Sungguh, aku nggak pernah meminta sesuatu yang di luar kemampuan keluargaku. Lebih baik aku apa adanya, yang penting mereka bahagia, sehat wal afiat. Suatu saat, aku pernah merasa bahwa aku sangat membutuhkan motor untuk mempermudah mobilisasiku. Aku tak memintanya secara langsung kepada keluarga. Aku meminta itu, dengan sangat berharap, dalam doa-doaku seusai sholat wajib. Alhamdulillah, keluargaku mengerti kebutuhanku, dan saat mendapat rezeki, mereka membawakan motor.

Aku pernah mendengar rengekan seorang anak kepada keluargannya,

“Saya butuh laptop, ma..buat ngerjakan tugas..karena sekarang sudah mulai menggunakan program grafis.”

“Trus, buat kapan, dek?”

“Ya secepatnya. Kalo bisa pekan depan.”

“Maunya yang kayak gimana?”

“Jangan yang lemot, yang prosesornya canggih, harganya sekitar 10 juta an”

Masya Allah.. Aku sebagai orang lain, mendengar nada desakan dia kepada keluarganya, sungguh, sangat risih. Sesak dada ini. Ingin rasanya kumarahi dan kubentak habis-habisan anak itu. Seberapa menghambatnya, sih jika tanpa laptop dulu? Tak bisakah bersabar dan bisakah tidak bersikap seperti itu pada mama, papa. Pfffh..aku tak tau..mungkin hal itu sudah biasa terjadi di keluarganya. Walaupun di keluargaku terbiasa dengan hal seperti itu, tapi aku tidak akan melestarikan budaya seperti itu. Kalo mau sesuatu, ya usaha dulu. Berdoa dulu. Sukanya, kok dengan hal yang instan. Emangnya cari duit itu mudah..

Advertisements

About Adistya

I'm a 22 years old girl. Just it. to be continue..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s