19 Ramadhan 1432 H
#4: Ending
Pukul 17.30 aku melaju supra-X putihku untuk pulang. Karena sesuatu hal, aku menuju Prambanan melewati janti menuju jalan Wonosari lalu belok ke jalan Piyungan-Prambanan. Di perjalanan menyempatkan diri untuk sholat maghrib di masjid pinggir jalan. Alhamdulillah, jaketku yang supertebal bisa melindungi tubuhku dari terpaan angin dingin. Karena angin malam ini memang luarbiasa dingin. Mungkin biasa bagi mereka yang berkendara malam hari.
Selama perjalanan kurang lebih 45 menit pikiranku tak dapat berhenti berfikir. Mengendalikan motor juga perlu berfikir, bukan? Sambil mengamati situasi jalanan, fikiranku terbang kemana-mana. Ke Tegal, ke asrama, ke kampus, ke jawa timur. Aku khilaf, seharusnya aku mengisinya dengan banyak berdzikir dan muroja’ah. Namun fikiranku tak kuasa ku ajak berfikir bercabang. Hingga tak terasa aku sampai di depan asrama. Brukk… tiba-tiba motorku terjatuh ketika akan berbelok menuju tempat parkir motor. Entah mengapa, tiba-tiba kakiku tak kuasa menahan berat motor dan tubuhku. Tidak ada yang terluka, tidak ada yang tertabrak atas kejadian ini. Pffuh.. benar-benar hari ini sungguh melelahkan. Tepat ketika adzan isya berkumandang. Sekitar Pukul 19.00. tenang saja, melelahkan hanya di hari Jumat.
Tetralogi 19 Ramadhan 1432 H
Bentar lagi Ramadhan lewat, bro en sis..T_T
