Tag Archive: cerbung


  • (lanjutan part 3)
  • Di sisi lain aku suka, caramu mengingatkanku. Kamu type orang yang blak-blakan mengingatkan potensi tercemarnya kamarku oleh najis dari kamar mandiku. Dan juga memberi masukan untuk solusi kamar mandiku yang agak bermasalah. Walaupun, menurutku, itu sudah aman dalam kerangka ilmu yang aku miliki. Memang belum ideal. namun, baru segitu yang sanggup aku lakukan. Bukankah kita diperintahkan bertaqwa sebisa kita? Aku pun sedang mencoba memperbaikinya. Perlahan. Step by step. Begitu juga perilaku sholihahmu, membuatku ingin menyamaimu. Dalam hal QL, dhuha, rutinitas pagi, produk halal MUI, keuletan baca jurnal, dll.

Footnote:

Kucoba mencari sumber api dari asap sikapmu yang membuat perih mataku itu. Mungkin, karena kondisimu belakangan ini berada dalam kondisi tertekan. Tertekan oleh target hidup, tertekan oleh tuntutan, masa depan, dll. Atau mungkin juga ada sikapku padamu yang membuatmu sakit hati. mungkin aku belum meminta maaf dan luka itu masih membekas di hatimu. Sehingga ketika bertemu denganku, luka itu menjadi perih karena daku yang telah menggoreskan luka itu. Maafkan aku, teman.

NB: Kuputuskan untuk mengangkat di blog ku. Kuyakin jika kau membacanya, kau sms diriku dan mengkonfirmasi hal ini. Percayalah, you are still my best fren..

-THE END-

Pliss deh, Mell..(Part 3)

  • (lanjutan part 2..)
  • O iya, Mell. Seingatku, kita beberapa kali terlibat pada perdebatan-perdebatan yang tidak perlu. Sikapku ketika kau membantah atau menilai negative cerita dan curhatanku, aku melakukan defense, membela diri. Lalu kau balik mencoba menjelaskan lagi secara logis. Lalu aku memberi komentar lagi. Padahal itu adalah hal yang tidak urgen. Perdebatan kita bukan untuk mencari kebenaran, tapi kau menyalahkanku, dan aku tidak mau disalahkan. Sehingga tidak ada titik temu. Sampai salah satu dari kita mengalah atau mengganti dengan pembahasan lain.
  • missal, di obrolan kita tadi pagi. Waktu kau menanyakan, aku lupa kalimatnya. Intinya, tentang pipiku yang terlihat lebih chubby dan badanku yang agak melar. Lalu kubilang, “ya, berat badanku bertambah 3 kg. Berarti aku tambah sehat, Mell”. Lalu komentarmu, “Ah, ga juga, ah. Emang berat badan ngaruh sama tingkat kesehatan? Mella kurus, tapi Insya Allah tetep sehat, ah.” Lalu kurespon, “Kan kita harus jaga kesehatan. Sekarang sedang banyak virus merajalela. Jadi aku teratur makannya, tidurnya juga cukup. Karena sebelumnya aku nggak terlalu merhatiin pola makanku.” Komentarmu, “Kok bisa, sih kamu nggak merhatiin makanmu. Di kosan mu, tuh kan ada Mba Eni yang setiap hari masak. Paling nggak, minimal disana tersedia nasi terus, tanpa harus kamu susah-susah keluar.” Ah, aku malas menjelaskan proses ku dari yang awalnya, 4 bulan pertama aku jadi pelanggan tetap Mba Eny, trus sekarang mulai bosan dan siklus Mba Eny pun berubah. Kupikir, bukankah itu merupakan perdebatan yang nggak penting?” aku rasa, beberapa kali kita terlibat perdebatan yang nggak penting itu.
  • to be continued..

Pliss deh, Mell..(Part 2)

  • lanjutan part 1..
  • Lalu di lain waktu, komentarmu ttg sikapku dan Abdul, “Kok Adis mau-mau aja, sih ngelakuin apa-apa yang diminta Abdul. Ngirim fotocopyan tausiyah, ngirim pesenan tulisan email, pesen tas..” ups..sebenernya komentar itu bikin aku agak sakit. Kau, Mell, yang selama ini aku jadiin tempat curhatku. Yang kupercaya akan bisa menjadi pengingatku saat aku salah. Kurang jujur apa lagi aku ceritakan padamu, bahwa tiap-tiap episode pemberian itu punya latar belakang dan alasan sendiri. Bukan karena aku mau diperbudak oleh Abdul. Atau karena ada kedekatan pribadi antara kami. Bukankah kau tau sendiri bagaimana aku mencoba menjaga jarak dengan Abdul? Ah, aku sempat kecewa. Kau tau, Mell. Aku sendiri tak tau kenapa tampak jadi seperti ini di matamu. Seolah aku banyak memberi dan mengasihi Abdul. Dan kalau itu yang tertangkap olehmu, jujur aku kecewa. Karena kepadamu lah aku menceritakan semuanya. Latar belakang tiap kejadian itu, alasan aku melakukannya. Dan, ternyata responmu bagiku, seperti orang yang sama sekali nggak mengenal diriku. Seolah kau mempertanyakan adanya kecenderungan hatiku sama Abdul. Padahal hal itu yang selalu aku jaga agar tidak muncul fitnah atau hal-hal yang tidak diinginkan. Ah, aku tak tau. Wa kafaa billahi syahiida. Dan cukuplah Allah yang menjadi saksi.
  • Yah, begitulah. seingatku, Mella lebih banyak memberi respon, “Kok kamu gini, sih dis. Kok kamu gitu, sih dis” pada tindakan atau sikap yang aku perbuat. Dalam 3 bulan ini, aku ingin belajar menerima diriku apa adanya, Mell. Baik dan buruk yang melekat pada diriku, kuterima dengan ikhlas. ekspektasi orang lain yang berlebih terhadap diriku, atau persepsi negative mereka tentang sikapku, tak perlu kuhiraukan. Dan bagiku itu sulit. Aku masih dalam taraf belajar untuk menuju kesejahteraan psikologis, Mell. Dengan mengurangi perfeksionisku terhadap prestasi akademis, terutama.
  • Bayangkan ketika seorang anak menceritakan pengalamannya di sekolah pada Ayah atau ibunya. Yang selalu dikomentari oleh ayah ibunya dengan, “Kamu nggak boleh gitu, nggak baik. Seharusnya begini.” Atau, “Ya Ampun, kamu nakal banget, sih”. Apa yang akan terjadi pada perkembangan si anak? Apakah dia akan nyaman bercerita secara bebas kepada kedua orangtuanya? Paling, dia akan mencari pelarian dengan mencari teman cewek/ cowok yang bisa mendengarkan curhatnya dan yang bisa mengerti dia apa adanya. jadi, salah siapa kalo si anak ketauan pacaran oleh orang tuanya? Nah, itulah maksudku. Jangan salahkan aku jika aku lebih memilih untuk tidak banyak bercerita kepadamu tentang kondisi dan masalahku lagi.
  • To be continued…

Pliss deh, Mell…(part 1)

Aku punya temen, namanya Mella. Dia akhwat yang sholihah. Anak AA (Asrama Akhwat). Dia teman baikku. Dia sering main ke kos ku. Dan kita lumayan sering bersama dan berinteraksi. Saat ini aku pengin ngirim surat buat dia, untuk bilang uneg-uneg ku, bismillahirrohmanirrohim..

§ “Mell, aku tau kamu tuh bijak, Mell. Kamu adalah amah Mella pemandu AA yang bisa diandalkan adik-adik asramamu. Bisa mengayomi, menjadi kakak yang baik tanpa harus menyuburkan sifat manja mereka. Tapi, entah kenapa aku merasa beda ketika kita berinteraksi, ya. Jujur, aku sering merasa tak berharga di matamu. Dari selorohanmu atas sikapku, dari komentar-komentarmu saat aku mengatakan atau berbuat sesuatu.

§ View full article »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.