Category: Mutsaqoful Fikr


Antologi Puisi Religi

Ya Allah Jadikan Hamba…

Karya L.K Ara, dalam Antologi Puisi Religi

Ya Allah

Jadikan hamba

Angin madinah

Agar dapat menggapai

Puncak mesjid Nabawi

Ya Allah

Jadikan hamba

Gerimis Madinah

Agar dapat menyiram

Dan membasuh tubuh mesjid Nabawi

Ya Allah

Jadikan hamba

Mata seorang pengunjung Madinah

Yang tak bosan-bosan

Menikmati keindahan

Mesjid Nabawi



Ya Allah

Jadikan hamba

Tangan seorang buta

Pengelana Madinah

Yang tak pernah lupa

Lekuk bentuk

Pintu mesjid Madinah

Ya Allah

Jadikan hamba

Kaki seorang perindu Madinah

Yang tak pernah lelah

Sehari lima waktu

Tersungkur di mesjid Nabawi

Ya Allah

Jadikan juga hamba

Jadi belalang Madinah

Yang dengan riang

Mengerubungi lampu mesjid Nabawi

Kemudian setelah terbakar cahaya

Ia mati


NB: Ya Allah… pertemukanlah hamba dengannya..

Dua Bahasa

“Pantesan, ty.. Biasanya, orang yang suka nulis itu biasanya susah ngomong lepas..

tapi orang yang suka ngomong itu..bisa-bisa aja buat nulis..”

Kata senior kampus ku suatu hari. Sekitar tahun 2006, 4 tahun yang lalu..

Statement yang belum pernah kudengar sebelumnya. Awalnya aku nda bisa terima. Emang iya, po??

View full article »

Dikisahkan dalam film berjudul The Core, film lama yang dirilis tahun 2003, namun baru saya tonton tahun 2010. Salah satu tokohnya bernama Rebecca, yang diperankan oleh Hillary Swank. Ceritanya, cewek berambut cepak ini sudah lama belajar di sekolah akademi militer. Karirnya di militer sudah mendapat gelar Mayor. Mayor Rebecca Childs. Dalam film itu, diceritakan dia memiliki banyak kelebihan, atau bisa dibilang, multitalent. Di usianya yang masih muda, dia sudah bergabung dengan astronot lain dan menjelajahi luar angkasa. Walaupun perempuan, karakter tegas dan disiplin dari dirinya membuatnya berbeda dengan gadis lain. Ketika ditanya oleh rekan lelakinya, “Kau asronot, namun bisa mengikat dasi juga. Apakah ada hal yang tidak bisa kamu kerjakan?” “Tidak ada sepengetahuanku”jawabnya tegas, tanpa basa-basi. Weisss…mantap n berani betulll…

View full article »

Waktu

Kekuatan terbesar yang ada. Waktu mempengaruhi semua aspek dalam kehidupan. Kita bernapas butuh waktu, tidur, menghitung, berkedip, tumbuh dan perkembangan emosi juga butuh waktu. Dengan waktu, semuanya bergerak beraturan. Bila kita meniup udara di depan kita, maka dalam 1per sekian detik, waktu akan merubah posisi partikel yang terkena angin dan mengisi bagian yang kosong itu dengan partikel yang lain. Bahkan proses penciptaan dan berlakunya mukjizat pun butuh waktu. Terus apa sebenarnya waktu itu? Diakah Tuhan? Bukan. Allah S.W.T dengan mudahnya dapat mengembalikan bagian anggota tubuh yang hilang dengan kehendaknya. Bahkan Rasul-Nya, Nabi Isa a.s bisa membalikkan kehidupan (menghidupkan orang mati) atas seizin Allah S.W.T. Lalu apa itu waktu? Apakah kata “waktu” merupakan subjek, dimana dia dapat melakukan sesuatu, atau objek, dimana dia hanya dapat berubah jika ada yang merubah? Ataukah waktu hanyalah sebuah keterangan? Mungkinkah waktu adalah kekuatan yang sangat besar, suatu subjek, namun bila dia diatur/dikendalikan maka dia akan menjadi objek yang patuh akan pengendalinya? Mungkinkah ada mesin waktu???

-M Jundi Arrofi-

………….

Menyadari bahwa hidup punya detik-detik gentingnya, adalah keharusan bagi kita.

Itu bahkan salah satu seni hidup yang paling rumit.

Sukses pada detik itu akan memberi arti sangat mendalam bagi sisa-sisa kehidupan berikutnya.

Semacam kanal penyambung, atau jembatan penghubung.

Yang tanpa kesuksesan di detik itu kita tak kan pernah sampai ke ruang hidup seberang sana,

secara waktu dan usia, atau secara perjalanan dan peran dan fase-fase pencapaian.


Tetapi dalam spirit penghayatan,

detik genting adalah penghela sekaligus lompatan perjuangan.

Penghela yang berarti jenak mengambil nafas,

pelontar sebagai pendorong untuk bergegas agar tidak jatuh di detik-detik itu.
………..

Dari buku “HIDUP TAK MENGENAL SIARAN TUNDA” (Tarbawi Press)

Inspiring from Kartika Dwi Hapsari’s note on her facebook

Album Kenangan Asma Amanina Angkatan II

“Kesuksesan BESAR milik mereka yang menyandarkan pada YANG MAHA BESAR”

Mendahului Takdir

Tiba-tiba saya teringat Ikal di novel Sang Pemimpi.

Waktu Ikal kelas 2 SMA, Ikal mulai bekerja sampingan dengan menjadi kuli angkut kayu. Sepulang sekolah, dia habiskan waktu bekerja untuk mengurangi beban financial keluarganya. Dalam dunia bekerja itu, dia melihat realita hidup yang sesungguhnya. Yang tak ia dapatkan di sekolah. Di sana ia merasakan pahitnya kenyataan dan ketidakadilan dunia. Hal itu membuat dia malas pergi ke sekolah. Jika dia sudah bisa mencari uang sendiri, untuk apa susah-susah menuntut ilmu. “Toh, seorang  lulusan SMA seperti dia nantinya hanya akan menjadi kuli juga” begitu pikirnya. Pikirannya terus diracuni oleh virus-virus kenikmatan sesaat yang mengikis motivasinya untuk belajar ke sekolah. Hingga akhirnya, saat penerimaan raport, ayahnya berangkat dengan sepeda seperti biasa untuk mengambil raport anaknya. namun kali itu, ayahnya pulang dengan tanpa ekspresi. Diam. Memendam kesedihan. Karena anaknya yang biasa juara kelas, kali ini prestasinya menurun drastis.

“Itu namanya kau mendahului takdir, Kal..” Nasihat Arai kepada Ikal saat Ikal mengadu kepada sahabatnya itu.

Yah, begitulah. Belajar dari Arai yang sejak kecil kehilangan sanak saudaranya (bagi yang udah baca, kalo masih inget, istilahnya simpai keramat. Betul?). Yang Andrea Hirata membahasakan Arai dengan, Ia telah berdamai dengan kepedihan dan siap menantang nasibnya. Ia juga bertekad memerdekakan dirinya dari duka mengharu biru yang membelenggunya seumur hidup.”

Terkadang kita bersikap kekanak-kanakan seperti Ikal. Hopeless dengan sesuatu membuat kita tak bersemangat melakukan apapun, sekecil apapun untuk sesuatu itu. Seolah itulah akhir dari takdir. Padahal, kita tak tahu apa yang telah Allah rencanakan di balik itu semua. Memang berat, untuk senantiasa memupuk keyakinan bahwa Allah selalu memberi yang terrrrrbaik bagi hamba-NYA. Yah, intinya, jangan mendahului takdir, kawan. Lakukan yang terbaik yang bisa kita lakukan  saat ini.

Lalui apa yang ada di hadapan kita dengan ikhlas, dan memberikan yang terbaik. Maka, “tidak ada balasan untuk kebaikan melainkan kebaikan juga” (intisari QS Ar-Rohman ayat 60). Daripada merutuk kegelapan, lebih baik menyalakan lillin, bukan?

Insya Allah malem ini saya nyicil bikin laporan inspiratif, bosnya BIMO. Mumpung deadline revisinya sedang agak longgar.

Menjadi Surviver

Rektor UNY menulis dalam kolom Opini di Kedaulatan Rakyat, 2 Mei 2009 (hardiknas)

Ada 5 kompetensi dasar untuk menjadi individu yang eksis secara berkelanjutan dimanapun dan dimanapun (Imam Ghozali, Evers etc., 1998):

  1. Morality and religiousity, untuk mencapai kebahagiaan hakiki/ tidak semu
  2. Self Management Skill, untuk menunjukkan kematangan pribadi dan terhindar dari dorongan energi yang menyesatkan
  3. Communicating skill, untuk mengekspreksikan diri dan mengapresiasi ide baik secara oral maupun tertulis
  4. Ability to manage people dan task, diperlukan dalam dunia kerja, organisasi, dan masyarakat
  5. Ability to manage change and motivation, untuk antisipasi perubajan dalam masyarakat atau menghadapi kondisi yang dinamis

Sedangkan untuk menjadi individu yang memiliki daya kemampuan handal, perlu kemampuan dan kompetensi akademik dan kompetensi profesional. Hal ini diperlukan untuk merespon pasar dan menciptakan lapangan kerja sesuai dengan bidangnya dan kondisi lokal atau daerah.

Saat Rasulullah SAW lagi thawaf. Rasulullah SAW bertemu dengan seorang anak muda yang pundaknya lecet-lecet. Setelah selesai thawaf Rasulullah SAW bertanya kepada anak muda itu :

“Kenapa pundakmu itu ?”

“Ya Rasulullah, saya dari Yaman, saya mempunyai seorang ibu yang sudah udzur. Saya sangat mencintai dia dan saya tidak pernah melepaskan dia. Saya melepaskan ibu saya hanya ketika buang hajat, ketika sholat, atau ketika istirahat, selain itu sisanya saya selalu menggendongnya”, jawab anak muda itu.

Lalu anak muda itu bertanya: ” Ya Rasulullah, apakah aku sudah termasuk kedalam orang yang sudah berbakti kepada orang tua?”

Nabi SAW sangat terharu mendengarnya, sambil memeluk anak muda itu ia berkata

“Sungguh Allah ridho kepadamu, kamu anak yang soleh, anak yang berbakti, tapi anakku ketahuilah, cinta orangtuamu tidak akan terbalaskan oleh pengorbanan dan kebaikanmu”.

Dari hadist tersebut kita mendapat gambaran bahwa amal ibadah kita ternyata tidak cukup untuk membalas cinta dan kebaikan orang tua kita terhadap anaknya. Kita merasa sudah cukup, tapi dalam perhitungan Allah nilai jasa kedua orang tua pada anaknya jauh lebih besar nilainya dari yang dibayangkan manusia. Pasti ada sesuatu perbuatan lain yang harus kita lakukan untuk memperbanyak balas budi kita pada kedua orang tua kita. Diantaranya dengan cara menjadi anak yang sholeh dan selalu mendoakan kedua orangtua kita.

Untuk membalas budi kedua orang tua saja kita tidak akan pernah sanggup, apalagi membalas kebaikan Tuhan yang mengkaruniakan kita fitrah kasih sayang pada kedua orang tua kita, yang mengkaruniakan kita mata yang mampu melihat, telinga yang mampu mendengar, lidah yang mampu merasakan kelezatan makanan, yang telah mengkaruniakan kita udara secara gratis.

Ada perspektif yang sama antara hadits tersebut barusan dengan hadits berikut ini.

Rasulullah SAW pernah berkata, “Amal soleh yang kalian lakukan tidak bisa memasukkan kalian ke surga”.

Para sahabat: “Bagaimana dengan Engkau ya Rasulullah ?”

 Rasulullah SAW: “Amal soleh sayapun juga tidak cukup”

para sahabat : “Kalau begitu dengan apa kita masuk surga?” .

Nabi SAW: “Kita dapat masuk surga hanya karena rahmat dan kebaikan Allah semata”.

Jadi sholat kita, puasa kita, taqarub kita kepada Allah sebenarnya bukan untuk surga tetapi untuk mendapatkan rahmat Allah.

Dengan rahmat Allah itulah kita mendapatkan surga Allah. Amal soleh yang kita lakukan sepanjang hidup kita (walau setiap hari puasa dan sholat malam) tidaklah cukup untuk mendapatkan tiket masuk surga. Amal soleh sesempurna apapun yang kita lakukan seumur hidup kita tidaklah sebanding dengan nikmat surga yang dijanjikan Allah. Surga itu hanyalah sebagian kecil dari rahmat Allah, kita masuk surga bukan karena amal soleh kita, tetapi karena rahmat Allah.

Apa makna dari kedua hadits tersebut diatas ? Yaitu bahwa perbuatan baik (akhlak) dan ibadah kita ternyata tidak mampu untuk mendapatkan tiket ke surga. Hanya karena rahmat-Nya lah kita bisa ke surga. Akhlak dan amal ibadah juga tidak cukup menjamin kita terbebas dari api neraka, hanya ampunan-Nya lah yang bisa membuat kita terbebas dari api neraka. Karena itu kita diminta banyak memohon rahmat dan ampunan Allah.

Lebih baik beramal sedikit namun ikhlas dan mendapat ridho Allah lebih baik dari banyak amalan namun tidak ikhlas dan tidak diridhoi Allah. Bukan begitu?

Menjadi Pemimpin?

Benar seperti yang pernah aku katakan, menjadi pemimpin itu sulit. Paling tidak ia harus bisa mengambil keputusan untuk menyelesaikan masalah, bisa mengambil keputusan berdasar pertimbangan logika yang cerdas dan pertimbangan hati yang bersih (keimanan yang bagus). Sebagaimana Allah kepemimpinan Nabi Yusuf yang dikaruniai hikmah dan ilmu (QS Yusuf ayat 22). Hikmah dan Ilmu disini maksudnya adalah sifat-sifat baik yang kokoh, dan ilmu pengetahuan yang mendalam. (Kelas Siroh, 3 April 2009). Sebagiamana juga Nabi Yusuf yang diakui di tengah-tengah masyarakatnya, punya pengaruh positif sehingga muncul kepercayaan dari masyarakat. Beliau menawarkan diri untuk sebuah profesionalitas dan pertanggungjawaban dengan meminta dijadikan bendaharawan Negara (QS Yusuf ayat 54-55). Hingga akhirnya ujian datang untuk menguji keimanannya (QS. Yusuf ayat 23-24). Ujian terberat seorang pemimpin muncul karena 2 sebab: 1. tekanan hawa nafsu, 2. sifat egoisme. Dikarenakan keimanan nabi Yusuf telah terbukti dan teruji sejak kecil menghadapi berbagai ujian, Allah menguatkan imannya dan menyelamatkannya dari fitnah wanita. Memang, fitnah paling berat bagi laki-laki adalah wanita, dan fitnah terberat bagi wanita adalah harta.

Dan itu semua tidak ada dalam diriku. Bahkan aku tidak bisa tegas, plin plan. Maka bagaimana bisa aku menjadi pemimpin?

Menurut ustadz, kepemimpinan itu adalah bakat, tapi bisa dilatih. “Maka kalo nggak punya bakat pemimpin, nggak usahlah jadi pemimpin. Karena mau dipukulin atau dipaksakan dikayak gimanakan, tetep susah.” Tiap orang dibekali potensi yang berbeda-beda. Ada orang yang banyak ilmunya, namun kurang cakap dalam memimpin. Ada juga yang Ilmunya dangkal, namun terkenal karena gaya kepemimpinannya yang kharismatik.

Hiks..Hiks..Sedih..

Aku merasa, aku harus punya jiwa kepemimpinan..Untuk memberi kemashlahatan secara banyak bagi banyak orang, butuh jiwa kepemimpinan yang bagus. Untuk melayani maysarakat secara optimal, harus menjadi pemimpin. Trus???

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.