Just wanna say to my self, that this is April…
It means…
About 3 months next is Ramadhan..
April itu….
Bulan kelahiran pahlawan revolusi kefeminisan Indonesia, RA Kartini…
April itu…
Saatnya menunggu sesuatu yang ditunggu…
Saatnya melengkapi berkas-berkas administrasi pendaftaran…
Saatnya keluar melawan ketidakberdayaan menjalani rutinitas…
Saatnya banyak mensucikan diri dari kotoran-kotoran hati..
Saatnya menggiatkan kembali muttaba’ah yaumiyah..
What is your theme on this month..? This is April, man…
@asih: Barakallah..
@Hafidz: Syukron dah jadi perwakilan L_2009 ke Tegal
@Panji_Nifh: Subhanallah.. Afwan ga bisa hadir… ayo di update dong, pengen ngeliat foto nikah en denger crita manten baru.. biar ikut jadi manten baru lagi.. hehe.. *tiap hari jadi manten anyar terus..
@ Nifh:
@All: kangen blogwalking..
Mau cerita dan kasih kabar aja, aktivitas saya masih di baitussalam, merawat tanaman bunga dari rumput liar. Kalo dulu ngerawat santri-santri, sekarang ‘santri’ nya Cuma tinggal satu di rumah. Pondok nya pindah di Griya Purwo Asri, Purwomartani, Kalasan, Sleman. Aktivitas mas Ichsan: ngelola percetakan ISES PUBLISHING_Mlati, owner Kedai Kampus_Deresan, keluar malem habis isya sampe jam 01.00: 4x seminggu.
Latest Entries »
Persepsi terhadap ruang dan waktu…
Persepsi seseorang terhadap kota dan daerah, akan dipengaruhi pengalaman psikologis seseorang selama tinggal di dalamnya.
“Kota yang selalu aku rindukan adalah kota Yogya.. pas banget sama lagu Yogyakarta nya Kla Project.” kata seseorang temanku.
ada yang bilang sedang keblinger sama Solo, the Spirit of Java.
singkatnya… aku pengen cerita, tentang persepsi aku terhadap 3 ranah kota yang pernah kutinggal di dalamnya. Sukoharjo, Yogykarta, Tegal.
Walaupun bapakku udah sering lupa..
Walaupun bapak sering diejekin ibu kalo sedang lupa aktivitas yang baru saja dilakukan,
Walaupun bapak sering ditertawakan karena sama cucu sendiri sering nanya, “ini sih siapa?”
Walaupun bapak sering diledekin sama cucunya yang masih kecil dan belum tahu siapa sebenarnya kakeknya,
Seorang anak perempuan bernama Giarti, tidak juga bisa tidur malam itu.
Giarti mengeluh, “Ufft..nyamuknya banyak banget, sih.. udah pake lotion, Cuma tahan beberapa jam. Pake selimut, kurang ampuh juga.. pake semprotan nyamuk, masih banyak juga. Nggak berperasaan banget, sih nyamuknya..”
Sore ini semburat senja menyingsing menghiasi kerajaan di ufuk barat. Seperti senja biasa, seperti hari-hari kemarin. Namun, hari ini adalah penghujung ramadhan. Mungkin malam ini sebagian masjid sudah dimeriahkan dengan takbir idul fitri. Namun bisa jadi sebagian lagi masih mendirikan sholat sunnah tarawih.
19 Ramadhan 1432 H
#4: Ending
Pukul 17.30 aku melaju supra-X putihku untuk pulang. Karena sesuatu hal, aku menuju Prambanan melewati janti menuju jalan Wonosari lalu belok ke jalan Piyungan-Prambanan. Di perjalanan menyempatkan diri untuk sholat maghrib di masjid pinggir jalan. Alhamdulillah, jaketku yang supertebal bisa melindungi tubuhku dari terpaan angin dingin. Karena angin malam ini memang luarbiasa dingin. Mungkin biasa bagi mereka yang berkendara malam hari.
Selama perjalanan kurang lebih 45 menit pikiranku tak dapat berhenti berfikir. Mengendalikan motor juga perlu berfikir, bukan? Sambil mengamati situasi jalanan, fikiranku terbang kemana-mana. Ke Tegal, ke asrama, ke kampus, ke jawa timur. Aku khilaf, seharusnya aku mengisinya dengan banyak berdzikir dan muroja’ah. Namun fikiranku tak kuasa ku ajak berfikir bercabang. Hingga tak terasa aku sampai di depan asrama. Brukk… tiba-tiba motorku terjatuh ketika akan berbelok menuju tempat parkir motor. Entah mengapa, tiba-tiba kakiku tak kuasa menahan berat motor dan tubuhku. Tidak ada yang terluka, tidak ada yang tertabrak atas kejadian ini. Pffuh.. benar-benar hari ini sungguh melelahkan. Tepat ketika adzan isya berkumandang. Sekitar Pukul 19.00. tenang saja, melelahkan hanya di hari Jumat.
Tetralogi 19 Ramadhan 1432 H
Bentar lagi Ramadhan lewat, bro en sis..T_T
19 Ramadhan 1432 H
#3: Nikmat Hari Ini
Kusedang memikirkan nikmat Allah yang kurasakan. Betapa bahagianya Allah memberikan aku amanah ngajar di sebuah ma’had.
Knapa bahagia? Karena aku ndak perlu susah-susah melaju rumah-sekolah. Artinya aku ndak perlu mikir ongkos bensin. Aku juga ndak perlu mikir makan-minum. Semua udah da di catering. Yang perlu aku lakukan tinggallah “ngajar, ngajar, dan ngajar..!!!”..
Eh, nggak ding, salah. *katanya, guru itu bukan sekedar mengajar, tapi juga mendidik. Ralat: Jadi yang perlu aku lakukan tinggallah, “ngajar, ndidik, ngajar, ndidik”. That’s your focus..!!. tapi ternyata jadi guru di sekolahan resmi itu ndak mudah, bro en sist.. transfer materi di kelasnya, mungkin nggak terlalu berat. Mengarahkan peserta didik agar memiliki moral yang baik, mungkin juga nggak memusingkan. Tapi kalo disuruh bikin Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, bikin Silabus tiap materi, bikin Kriteria Ketuntasan Minimum, bikin Program Harian, tahunan, semesteran. Dan bikin-bikin administrasi lain sebagai kelengkapan mengajar, itu lo yang sering bikin mutung. +_+. Per guru materi bisa ngabisin 1 rim sendiri kalo bener-bener administrasinya dilengkapi. Subhanallah ya, temen-temen yang belajar di sekolah keguruan (UNY, UNS, UNNES, UIN, dll). Bener-bener dididik untuk jadi guru sejati. Luar biasa..
Aku, yang bukan dari sekolah keguruan, yang belum banyak belajar apa sih ini pentingnya, ya akhirnya agak nggak mood gitu kalo disuruh ngelengkapin. Jadi ya, maafkan aku, ustadzah Baety, bagian kurikulum SMP, jika aku sering bandel en susah kalo diminta ngelengkapin administrasi..
Truss…..
sebenernya aku masih punya satu tulisan lagi, terinspirasi dari obrolan di liqo yang bertema APRIORI.. tapi, ga sekarang deh aku nulisnnya. sepertinya juga di bukan di forum ini. terlalu berat… BEuuh…
19 Ramadhan 1432 H
1#PREAMBULE
Hari ini adalah hari yang melelahkan. Tapi Alhamdulillah, banyak hikmah yang kudapat. Seperti biasa, setiap hari Jum’at, jam mengajarku di SMP tidak banyak. Bahkan bisa dibilang kosong. Maka rutinitas jum’at ku adalah di luar area Prambanan.
Setiap Jumat pagi pukul 07.00 jadwalnya syuro rutin bidang ku di Islamic Center, Seturan. Jika undangan jam 07.00, maka aku harus berangkat setengah jam sebelumnya jika tidak ingin terlambat. Aku kapok terlambat karena teguran Pak Tovan, mas’ulku, yang pernah mengirimiku sms ketika aku terlambat lebih dari 15 menit tanpa pemberitahuan. Isi smsnya: “Semoga keterlambatan kita tidak menjadi penghambat dakwah”. Beuh.. nonjok betul. Tapi bukan karena itu juga, sih aku selalu mengusahakan sebisa mungkin untuk tepat waktu. Agar dapat balasan yang terbaik, maka aku juga harus memberikan yang terbaik. Bukankah telah tercantum dalam Ar-Rohman: 55 bahwa, “Apakah balasan bagi kebaikan (*ihsan, sebenernya artinya kebaikan yang terbaik), kecuali kebaikan/ ihsan itu sendiri”.
Oke, kembali ke syuro jam 07.00 pagi, biasanya selesai jam 08.00 atau 09.00. trus, perjalanan selanjutnya adalah liqo pekanan jam 11.00. karena perjalanan yang ditempuh sekitar 45 menit dari Seturan, maka setidaknya maksimal pukul 10.15 aku sudah berangkat dari IC Seturan atau 10.30 dari sekitar UGM.
Liqo biasanya baru selesai maksimal pukul 14.00. kadang juga pukul 14.30. setelah itu, agenda buat ngeliqoin. Gentian, dunk, habis diisi, trus ngisi. Biasanya ngeliqoin membutuhkan waktu lebih lama. Pernah mulai pukul 14.00, selesai pukul 17.30. atau mulai pukul 15.30, selesai pukul 18.30 *sekalian maghrib di tempat. Dari tempat liqo adek-adek, normalnya membutuhkan waktu 30 menit untuk mencapai tempat hunianku, karena tempat liqo tidak jauh dari area kampus. Namun, aku telah menginfakkan 45-60 menit untuk bisa mampir ke suatu tempat sebelum aku mengakhiri perjalanan tarbiyahku hari ini.





